Telegram dan Signal Populer, WhatsApp Mengaku Ikut Senang

Telegram dan Signal Populer, WhatsApp Mengaku Ikut Senang

Aisyah Kamaliah - detikInet
Jumat, 19 Feb 2021 14:20 WIB
Telegram vs WhatsApp
Tanggapan WhatsApp atas popularitas Telegram dan Signal. Foto: Internet
Jakarta -

Banyaknya pengguna yang beralih dari WhatsApp ke Telegram dan Signal. Semua memuncak ketika WhatsApp mengeluarkan kebijakan privasi baru yang tidak disangka-sangka memicu kebingungan dan kesalahpahaman pengguna.

Di tengah konferensi pers, WhatsApp APAC Communications Director Sravanthi Dev mengatakan bahwa WhatsApp tidak ada masalah bila penggunanya juga memakai aplikasi punya kompetitor. Malah WhatsApp merasa senang bila pengguna memiliki opsi platform bertukar pesan.

"Sangat penting orang-orang memiliki pilihan untuk memakai aplikasi messaging apapun dan itu bagus. Banyak orang yang memakai aplikasi berbeda-beda. Ada saja teman yang memakai aplikasi tertentu, orang tua pakai aplikasi yang lainnya lagi, teman Anda bisa memakai aplikasi yang berbeda dan tidak biasa, dan itu wajar saja," cetus Sravanthi, Jumat (19/2/2021).

Setelah keluar pengumuman soal kebijakan privasi baru WhatsApp, diketahui kompetitor seperti Telegram dan Signal mengalami kenaikan dalam jumlah pengguna. Diketahui, Telegram menjadi aplikasi non-game yang paling banyak diunduh di seluruh dunia pada Januari 2021.

Firma riset aplikasi mobile Sensor Tower mencatat ada lebih dari 63 juta download di Januari. Angka ini 3,8 kali lipat angka download di bulan yang sama tahun lalu.

Sedangkan untuk Signal, menurut data dari Sensor Tower, aplikasi ini pada awalnya baru di-download secara global sebanyak 246 ribu kali seminggu sebelum WhatsApp mengumumkan aturan privasi baru. Seminggu setelah kebijakan itu diumumkan, download Signal meningkat tajam menjadi 8,8 juta kali.

Lebih lanjut, Sravanthi mengatakan bahwa WhatsApp mengerti bahwa isu keamanan adalah hal yang sangat penting. Karena itu ia menegaskan pihak WhatsApp akan selalu memperhatikan keamanan percakapan antar pengguna dan data-data pribadi yang sensitif lainnya.

"Signal dan WhatsApp memakai enkripsi end-to-end karena itu industry best protocol, ini adalah cara consumer berbicara dengan aman. Kami sadar security mulai mainstream dan wajar, saya rasa orang harus memahami pentingnya keamanan," ujar Sravanthi.

Karenanya, WhatsApp memutuskan untuk menunda penerapan kebijakan privasi baru dan memberikan waktu kepada pengguna untuk memahami mengenai isi dari kebijakan tersebut.

"Kami sangat pelan-pelan ke arah sana (kebijakan privasi baru WhatsApp -- red). WhatsApp ingin sangat mempertimbangkan dengan baik, kami mau produk kami tetap simpel. Kami ingin konsumen selalu tahu apa yang kami tawarkan, tidak peduli di mana Anda berada dan bahasa apapun yang Anda gunakan," tukasnya.



Simak Video "Mengenal Pendiri Telegram dan Signal yang Kerap Menyerang WhatsApp"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/fay)