Ini Cara Huawei Pulihkan Ekonomi Berbasis Gerakan Hijau di Asia

Ini Cara Huawei Pulihkan Ekonomi Berbasis Gerakan Hijau di Asia

Erika Dyah - detikInet
Jumat, 29 Jan 2021 19:35 WIB
Huawei
Foto: Huawei
Jakarta -

Huawei bersama ELEVATE menggelar konferensi virtual guna membahas upaya pemulihan ekonomi berbasis gerakan hijau di Asia. Huawei Corporate Senior Vice President and Director of the Board Catherine Chen menyampaikan gelaran ini dibuat untuk membahas upaya transformasi perekonomian pascapandemi COVID-19 sekaligus menghadapi krisis iklim yang terjadi saat ini.

Baginya, pandemi menjadi pengingat tentang dampak kerusakan alam akibat ulah manusia. Oleh karena itu, lanjutnya, upaya-upaya pemulihan yang ramah lingkungan diperlukan.

Ia pun menekankan pentingnya upaya bersama dalam mengatasi perubahan iklim. Menurutnya, udara bersih serta pengelolaan limbah yang efektif merupakan sejumlah faktor penting pemacu pertumbuhan ekonomi. Ia menilai faktor-faktor tersebut juga dapat meningkatkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi pandemi global.

Menurut Catherine, teknologi digital turut andil dalam memangkas emisi dan pemakaian energi di sejumlah industri. Mulai dari pemanfaatan solusi-solusi big data hingga IoT, sekaligus mampu menjadi pemberdaya bagi sumber-sumber energi terbarukan melalui pemanfaatan solusi-solusi AI.

"Kami yakin bahwa pemanfaatan teknologi harus bisa membawa kebaikan bagi bumi yang lebih baik, sebagai satu-satunya rumah bagi umat manusia," ujar Catherine dalam keterangan tertulis, Jumat (29/1/2021).

Ia juga menyampaikan kontribusi Huawei dalam memangkas emisi karbon, menggali munculnya sumber-sumber energi terbarukan, serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif melalui pendayagunaan solusi-solusi TIK.

"Saya optimis terhadap kemampuan kami tidak saja dalam turut mendorong kemajuan teknologi dunia, namun juga bagaimana kami bersama-sama dengan masyarakat dunia membulatkan tekad agar hidup harmonis dengan alam," imbuhnya.

Catherine pun merinci jumlah populasi di Asia Pasifik, belum termasuk di China, mencapai hampir setengah dari populasi dunia. Pada 2019 tercatat sekitar 25 persen GDP dunia dihasilkan dari kawasan tersebut.

Ia menilai hal ini menjadi landasan bagi tumbuhnya berbagai infrastruktur TIK baru, dikembangkannya pendekatan-pendekatan baru yang lebih terintegrasi menuju terwujudnya model pembangunan yang inklusif dan berkesinambungan, serta menumbuhkan optimisme bagi pengembangan model-model perekonomian yang ramah lingkungan.

Catherine mengungkap Huawei akan terus meminimalkan dampak lingkungan dari setiap prosesnya, yakni produksi, operasional, serta melalui upaya daur ulang atas produk dan layanan. Hal ini dilakukan pihaknya selaras dengan Paris Agreement dalam mendukung terwujudnya UN Sustainable Development Goals.

Ia menambahkan Huawei juga mengembangkan teknologi untuk mewujudkan bumi yang lebih baik. Hal itu tampak dari target untuk menerapkan penghematan sumber daya dan mendorong industri berpartisipasi dalam membangun masyarakat dengan jejak karbon rendah.

Senior Advisor at ELEVATE Richard Welford pun menjelaskan sejumlah tantangan maupun peluang dalam membangun upaya pemulihan global pascapandemi COVID-19 yang selaras dengan kebutuhan mendesak untuk bersama-sama memerangi perubahan iklim dan permasalahan-permasalahan lingkungan.

"Perhelatan membawa cita-cita luhur untuk tercapainya pertumbuhan ekonomi yang ramah lingkungan melalui sinergi yang terjalin erat antara pemerintah, bisnis, serta organisasi-organisasi masyarakat," pungkas Richard.

Sebagai informasi konferensi ini dihadiri oleh sejumlah pembicara dari berbagai kalangan di antaranya pemerintahan juga lembaga internasional di kawasan Asia Pasifik. Seperti Dr. Vong Sok, Head of the Environment Division and Assistant Director of Sustainable Development Director at the ASEAN Secretariat, Yeon-chul Yoo, Ambassador for Climate Change at the Ministry of Foreign Affairs of the Republic of Korea, Asad Naqvi, the Head of Secretariat of the Partnership for Action on Green Economy (PAGE-UNEP), Ma Aimin Deputy Director of the National Center for Climate Change Strategy and International Cooperation at the Ministry of Ecology and Environment of the People's Republic of China, Hyoeun Jenny Kim, Deputy Director-General of the Global Green Growth Institute (GGGI) dan Meng Liu, Head of Asia Pacific Networks at the United Nations Global Compact.

(fhs/ega)