Tutup Blanja.com, Strategi Telkom Dianggap Sudah Tepat

Tutup Blanja.com, Strategi Telkom Dianggap Sudah Tepat

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Selasa, 08 Sep 2020 17:12 WIB
Logo Telkom
Tutup Blanja.com, Strategi Telkom Dianggap Sudah Tepat (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Langkah Telkom menutup Blanja.com dan beralih ke segmen korporasi dan UMKM dianggap sudah tepat, utamanya dari aspek bisnis dan keuangan.

Menurut pengamat ekonomi digital Ignatius Untung, persaingan di ranah e-commerce yang dihadapi Blanja.com memang sangat ramai dan ketat.

"Totalnya ada 10 pemain lebih, di mana 5 di antaranya sudah cukup dominan dan butuh investasi besar untuk mengejarnya. Jadi dugaan saya Telkom berhitung dan mendapatkan hasilnya bahwa investasi di bidang itu Return On Investment (ROI) tidak sebaik ketika mereka masuk ke segment Business to Business (B2B) yang lebih sedikit pemainnya," ulasnya.

Diprediksinya dengan kekuatan Telkom bersama anak perusahaan, hubungan baik sesama BUMN dan akses ke pemerintah membuat bisnis B2B dan Business to Government (B2G) menjadi hitungan yang lebih masuk akal untuk operator tersebut.

"Saya melihat langkah keluar dari market Customer to Customer (C2C) marketplace ini bukan masalah mampu atau tidak mampu. Telkom dan eBay sebagai induknya Blanja.com punya uang untuk bisa bersaing. Hanya saja bisnis pada akhirnya kan tetang mana yang hitungannya lebih baik," tambah Ignatius yang juga Ketua Umum Asosiasi E-commerce Indonesia (IdEA).

Sedangkan pengamat ekonomi digital lainnya Daniel Tumiwa mengakui langkah Telkom sudah tepat menutup Blanja.com. Menurutnya bisnis e-commerce sudah tak punya tempat untuk pemain baru karena biaya yang dibutuhkan sangatlah tinggi.

"Bagus, karena late comer yang tidak berhasil atau gagal cari pendanaan pasti akan tutup. Platform e-Commerce sudah tutup untuk pemain baru, sudah terlalu mahal untuk masuk. Nanti akan ada koreksi lagi di pasar," prediksinya.

Terpisah, pengamat telekomunikasi Doni Ismanto Darwin menyatakan bisnis e-commerce terutama di sektor C2C memang lumayan keras karena masyarakat masih menjadikan promosi berupa cashback, diskon, hingga subsidi ongkos pengiriman sebagai daya tarik berbelanja.

"Harus dipahami sebagai listed company dan BUMN, Telkom itu tetap orientasinya EBITDA dan Net Income positif dalam mengoperasikan bisnis. Sementara bisnis eCommerce ini yang diincar Gross Market Value (GMV) yang butuh dana besar sebagai bensinnya, tetapi EBITDA dan Net Income belum tentu positif. Melirik lucrative market seperti B2B yang lebih bisa dikelola supply chain tentu langkah rasional jika Telkom masih mau bermain di eCommerce," kata Doni.

Lebih lanjut Doni menyarankan pemerintah untuk lebih jeli melihat kompetisi di e-commerce karena ekosistemnya makin dikuasai asing.

"Platform, payment, hingga logistik sekarang mulai dikuasai asing. Saya rasa pemain lokal ada peluang di payment dan logistik jika regulasi dijalankan dengan benar. Kalau payment dan logistik lepas juga semua ke asing, artinya Indonesia ini hanya akan menjadi pasar," tutupnya.

Sebelumnya, Blanja.com yang dikelola Telkom dan eBay mengumumkan adanya perubahan strategi bisnis yang dilakukan, sehingga terhitung mulai 1 September 2020 seluruh kegiatan pembelian di portal tersebut akan dihentikan.

Direktur Digital Business Telkom, Fajrin Rasyid menjelaskan sejalan dengan program transformasi perusahaan, terhitung 1 Oktober 2020 Telkom hanya akan fokus pada bisnis e-commerce di segmen korporasi dan UMKM melalui transaksi B2B.



Simak Video "Ini Alasan Telkom Tutup Layanan Blanja.com"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/fay)