Pendapatan Turun, Twitter Pertimbangkan Layanan Berbayar

Pendapatan Turun, Twitter Pertimbangkan Layanan Berbayar

Virgina Maulita Putri, Virgina Maulita Putri - detikInet
Minggu, 26 Jul 2020 06:51 WIB
A 3D-printed logo for Twitter is seen in this picture illustration on January 26, 2016.  REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo
Pendapatan Turun, Twitter Pertimbangkan Layanan Berlangganan Foto: Reuters
Jakarta -

Twitter sedang mencari cara baru untuk mendapatkan pemasukan lebih banyak dari penggunanya. Salah satunya dengan menggulirkan layanan berlangganan.

Hal ini diungkapkan CEO Twitter, Jack Dorsey saat berbicara dengan analis Wall Street setelah menjabarkan laporan keuangan Twitter. Metode baru ini dipertimbangkan setelah bisnis iklan Twitter mengalami penurunan yang signifikan.

"Kalian kemungkinan akan melihat beberapa uji coba tahun ini," kata Dorsey seperti dikutip detikINET dari CNN, Minggu (26/7/2020).

Dorsey mengatakan ia memiliki batasan yang sangat tinggi ketika kita akan meminta konsumen untuk membayar aspek-aspek layanan Twitter. Ia juga memastikan bahwa proses pencarian sumber pendapatan baru ini masih berada di tahap awal.

Sebenarnya rumor tentang layanan berlangganan di Twitter telah merebak sejak awal bulan Juli. Hal ini terkuak setelah muncul lowongan kerja yang diunggah Twitter untuk tim internal baru bernama 'Gryphon' yang sedang membangun platform berlangganan.

Sama seperti media sosial saingannya, Twitter memang menawarkan layanan gratis tapi mendapatkan pemasukan dari pengiklan yang bisa menargetkan iklan kepada pengguna.

"Kami ingin memastikan jalur pendapatan baru saling melengkapi dengan bisnis iklan kami," kata Dorsey.

"Kami pikir ada dunia di mana berlangganan saling melengkapi, di mana perdagangan saling melengkapi, di mana membantu orang mengelola paywall, kami pikir saling melengkapi," pungkasnya.

Pertimbangan Twitter untuk menghadirkan layanan berlangganan muncul setelah laporan pendapatan kuartal kedua yang tidak sesuai ekspektasi.

Dalam laporan keuangan di kuartal kedua yang berakhir pada 30 Juni, Twitter meraup pendapatan sebanyak USD 683 juta. Angka ini meleset dari USD 707 juta yang diperkirakan Thomson Reuters dan turun 19% year over year.

Bisnis iklan yang menjadi sumber pendapatan utama Twitter menyumbang USD 562 juta di kuartal kedua, turun 23% year over year. Twitter mengatakan bisnis ini mulai pulih di tiga minggu terakhir kuartal ini.

Selain karena pandemi virus Corona, Twitter mengatakan pengiklan enggan mengeluarkan uang karena protes besar-besaran di Amerika Serikat pada bulan Juni setelah kematian George Floyd di tangan polisi.

Tapi, setidaknya perusahaan berlogo burung ini berhasil mendulang lebih banyak pengguna baru. Twitter melaporkan saat ini mereka memiliki 186 juta pengguna aktif harian, naik 34% dari periode yang sama di tahun lalu.



Simak Video "Bos Twitter akan Uji Coba Layanan Berbayar di Platform-nya"
[Gambas:Video 20detik]
(vmp/fay)