Sampai Maret 2006, Bisnis TI Masih Suram?
- detikInet
Jakarta -
Kenaikan BBM, inflasi, serta anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar ternyata cukup 'memporak porandakan' bisnis perangkat elektronik dan teknologi informasi (TI). Bahkan sampai Maret 2006 pun diperkirakan masih suram.Pernyataan itu disampaikan oleh Presiden Direktur PT Samsung Elektonik Indonesia Lee Kang Hyun. "Sebelumnya pebisnis mengharapkan konsumen produk elektronik tumbuh untuk unit per unitnya sebesar 10 persen, untuk TI tumbuh 15 persen, dan untuk telekomunikasi juga tumbuh 12 persen. Tapi nyatanya tidak sesuai sesuai harapan," kata Lee di sela acara pengumuman pemenang Samsung Digital Hope 2005, Selasa (6/12/2005)."Saya rasa hingga tahun depan belum ada titik terang. Hingga Maret 2006 saja kita masih akan wait and see," tambahnya.Dengan adanya kenaikan BBM, inflasi, serta anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar, Lee merasa tiap perusahaan juga tidak mungkin menaikan harga barang, meskipun cost yang mereka keluarkan harus mengalami pembengkakan."Mengingat demand juga turun dan hal itu tidak terjadi hanya pada Samsung saja," jelas Lee.Sebelumnya, Lee pernah memprediksikan kondisi hingga akhir tahun untuk bisnis TI di Indonesia secara general turun hingga 20 persen.Untuk mengembalikan bisnis TI 'sehat' seperti sedia kala, Lee hanya berharap kondisi ekonomi bisa segera stabil, rupiah kembali menguat dan pemerintah lebih banyak menggerakan industri lokal.Sumbang US$ 500 ribuMasih di tempat yang sama, meski bisnis Samsung secara keseluruhan sedang turun dan penjualan ponsel-nya juga anjlok ke posisi keempat, tapi perusahaan asal Korea ini masih bersedia menyisihkan dana total US$ 500 ribu untuk 11 pemenang program dana bantuan Samsung DigitAll Hope 2005.Dari ke-11 pemenang yang dipilih dari beberapa negara seperti Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam dan Australia, dua diantaranya berasal dari Indonesia, yakni Yayasan Sutera dan Yayasan Mitra Netra. Kedua yayasan itu masing-masing mendapatkan US$ 52.997 dan US$ 41.138.Oleh Mitra Netra, dana hasil sumbangan itu akan dialokasikan untuk proyek mereka membuat perpustakaan digital khusus tuna netra di empat kota yakni Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Makassar. Perpustakaan digital itu nantinya akan diisi dengan electronic book (e-book) dan majalah online, yang diharapkan bisa membantu orang yang punya keterbatasan dengan penglihatan untuk membaca.Sedangkan oleh Yayasan Sutera, uang hasil sumbangan itu akan digunakan untuk membantu para korban bencana alam, khususnya anak-anak, menghilangkan masa trauma dengan memberikan edukasi dan pengalaman menarik lainnya dengan bantuan TI.
(rouzni/)