Cina: Ada Back Door di Software Microsoft
- detikInet
Jakarta -
Karena khawatir akan adanya kode rahasia yang ditanamkan pada software Microsoft, pemerintah Cina berinisiatif menggalakkan penggunaan software open source sebagai alternatif. Cina mengkhawatirkan adanya back door di software Microsoft, yang mampu mengacaukan infrastruktur Cina.Pemerintahan Cina berencana akan mendistribusikan sedikitnya 14.000 Personal Computer (PC) bersistem operasi Linux, di sekolah-sekolah dasar dan menengah di propinsi Jiangsu. Niatan tersebut diumumkan Oktober 2005, dan dinilai sebagai gerakan adopsi Linux terbesar di Asia.Sampai saat Cina bergabung dengan World Trade Organization (WTO) tahun 2001, software Microsoft bajakan masih marak digunakan, termasuk di kalangan pemerintahan. Sebagai bagian dari WTO, China harus menyucikan diri dari software bajakan, termasuk software-software Microsoft. Pihak berwenang pun memutuskan untuk memilih Linux sebagai alternatif sistem operasi.Cnet yang dikutip detikinet, Selasa (15/11/2005) melansir, alasan Cina memilih software open source adalah karena biaya yang rendah. Hal itu diungkap Andrea DiMaio, analis dari Gartner. Menurutnya, harga yang murah memberi keuntungan bagi industri lokal.Namun begitu, James Governor analis dari Redmond -- kota asal Microsoft, menilai bahwa alasan politik dan budaya lebih mendominasi kebijakan open source tersebut."Ada banyak ketidakpercayaan terhadap imperialisme Amerika di Cina," kata Governor. "Karena Linux bukan produk perusahaan Amerika, hal itu menjadi pertimbangan mereka. Cina juga memiliki insting komunitas, yang jadi inti penting open source," ujarnya.Kembali ke masalah kode rahasia. Ada kekhawatiran di kalangan pemerintah Cina akan adanya kode tak diinginkan di software Microsoft, yang bisa saja sudah dimanipulasi pemerintah Amerika Serikat. Kode tersebut diduga bisa dimanfaatkan untuk mengacaukan infrastruktur komputer di Cina.Madanmohan Rao, direktur riset dari Asian Media Information and Communication Centre, sependapat bahwa paham anti-Amerika jadi kekuatan promosi open source di Cina. "Pemerintahan Cina ketakutan dalam mengimplementasikan software proprietary. Mereka khawatir akan adanya back door pada software tersebut," imbuhhya.
(ien/)