Jumat, 31 Mei 2019 21:02 WIB

Curhat Satu-satunya Produsen 'Tanah Jarang' di AS

Fino Yurio Kristo - detikInet
Penambangan tanah jarang. Foto: Reuters Penambangan tanah jarang. Foto: Reuters
Jakarta - Didominasi oleh China, produksi 'tanah jarang' tak banyak dilakukan di negara lain. Amerika Serikat tercatat hanya punya satu perusahaan 'tanah jarang' yang beroperasi, yaitu MP Materials.

Mereka pun jadi sorotan karena mungkin akan jadi perusahaan paling diandalkan jika ancaman China melarang ekspor rare earth ke AS direalisasikan. Tapi MP Materials pun masih bergantung pada China.

Berlokasi di California, MP Materials per tahun mengapalkan hampir 50 ribu ton tanah jarang ke China untuk proses penyempurnaan. "Tidak ada kapasitas penyulingan di dunia ini yang berada di luar China," ujar James Litinsky, Chairman MP Materials.




Jika ingin mandiri, Litinsky mengestimasi tahun depan baru bisa terlaksana, tidak tahun ini. "Kita membicarakan tentang pemerintah AS dan berharap mereka menolong kami, tapi kami tidak menghitung hal itu," sebutnya yang dikutip detikINET dari CNBC.

Pada masa silam, AS sebenarnya menguasai pasokan tanah jarang. Mountain Pass selama beberapa dekade bahkan pernah mengendalikan suplai tanah jarang dunia.

Tapi semua berubah pada tahun 1980-an. Ekstrasi tanah jarang bukan perkara gampang, bisa merusak lingkungan, berdampak pada buruh dan berbiaya cukup besar. Kemudian regulasi AS membatasi penggunaan thorium, radioaktif yang dihasilkan dalam proses penambangan.

"Pada buruh, padat modal, prosesnya rumit. Bisa menjadi berbahaya, di mana pekerja pabrik terbunuh atau terluka membuat material itu. Jadi merupakan bagian yang sangat berbahaya dalam rantai suplai," sebut Jon Blumenthal, CEO manufaktur metal Blue Line Corp.

Produksi di AS pun makin menurun dan China menangkap peluang tersebut. Mereka bergerak agresif dengan subsidi pemerintah, standar lingkungan yang longgar dan upah buruh lebih rendah. Hasilnya pada tahun 2010, China menguasai suplai tanah jarang global.

"Satu negara mencoba memelihara lingkungan dan pekerja dan negara lain memprioritaskan untuk menumbuhkan ekonominya. Maka, sangat sulit untuk berkompetisi," tandasnya.


(fyk/krs)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed