Jumat, 31 Mei 2019 12:54 WIB

China Batasi 'Tanah Jarang', Produksi Jet F-35 Bisa Goyang

Fino Yurio Kristo - detikInet
Jet F-35. Foto: Getty Images Jet F-35. Foto: Getty Images
Jakarta - China mengancam akan melarang ekspor 'tanah jarang' atau mineral langka ke Amerika Serikat, upaya saling balas dalam perang dagang mereka.

"Akankah rare earth jadi senjata bagi China untuk membalas tekanan dari Amerika Serikat yang tidak beralasan? Jawabannya bukanlah misteri. Jangan bilang kami tak memperingatkan kalian," tulis People's Daily, media corong pemerintah China.

'Tanah jarang' atau rare earth ini adalah sebutan untuk kelompok 17 elemen kimia yang sangat penting dan dipakai di produk elektronik sampai peralatan militer. China merupakan produsen mayoritas dan mengekspornya ke Amerika Serikat.




Mineral langka tersebut amat penting peranannya dalam industri pertahanan AS. Dikutip detikINET dari Business Insider, kapal selam kelas Virginia yang bertenaga nuklir membutuhkan tanah jarang sebanyak 4.100 kilogram.

Kontraktor pembuat alat pertahanan AS seperti Raytheon dan Lockheed Martin memanfaatkan mineral langka untuk membuat sistem pemandu high end dan sensor misil serta platform militer lainnya.

Bahkan, pesawat tempur generasi kelima atau paling canggih milik AS yaitu F-35 Lighting II Joint Strike Fighter, membutuhkan 417 kilogram tanah jarang. Jika China sampai menghentikan ekspornya, AS berpotensi kelabakan karena Negeri Paman Sam itu praktis tak punya kapabilitas untuk memproduksinya.

Menurut Bloomberg, AS bergantung pada China untuk pasokan sekitar 80% tanah jarang. "Rare earth adalah produk niche khusus dan penting untuk Departemen Pertahanan," kata Simon Moores, Managing Director Benchmark Mineral Intelligence.

"Tanah jarang penting buat produksi dan operasi peralatan militer AS. Akses pada material penting yang bisa diandalkan adalah persyaratan dasar buat Departemen Pertahanan," tulis laporan 2016 Government Accountability Office.

Memang jika benar China akan menghentikan ekspor, Departemen Pertahanan bisa mencari sumber alternatif, tapi pastinya membutuhkan waktu. Pemerintah China sendiri belum angkat bicara terkait kemungkinan pembatasan ekspor rare earth.


(fyk/krs)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed