Senin, 08 Apr 2019 08:20 WIB

Membandingkan Status Decacorn Go-Jek dengan Startup Dunia Lainnya

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Foto: Rengga Sancaya Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Go-Jek baru-baru ini telah menyandang status decacorn, alias startup dengan valuasi USD 10 miliar. Lantas, seberapa besar sebenarnya nilainya dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan rintisan terkemuka dunia lainnya?

Mari mulai membandingkannya dengan sesama pemilik layanan ride-hailing. Jika disandingkan dengan Uber, Didi Chuxing, Lyft, dan Grab, Go-Jek masih berada di bawah keempatnya.


Berdasarkan laporan dari CB Insights, firma analisis dari New York, Amerika Serikat, per 5 Maret 2019, valuasi Uber berada di angka USD 72 juta. Sejumlah prediksi menyebut nilainya bisa meroket hingga USD 120 miliar jika ia melantai di bursa.

Lalu, Didi Chuxing tak terlalu jauh berada di belakang Uber dengan valuasi USD 56 miliar. Sedangkan Lyft yang baru-baru ini mengumumkan IPO sudah memiliki kapitalisasi pasar lebih dari USD 21 miliar.

Saingan terdekatnya, Grab, yang lebih dulu menyandang status decacorn, telah bernilai USD 11 miliar. Walau demikian, Go-Jek punya nilai lebih besar ketimbang Ola dan Careem.

Nama pertama merupakan penyedia ride-hailing asal India, namun juga sudah beroperasi di Australia, Selandia Baru, dan Britania Raya, dan sudah bernilai USD 6 miliar. Sedangkan satunya adalah penyedia jasa ride-hailing terbesar di Timur Tengah dan telah mengaspal di 15 negara yang telah ditebus Uber seharga USD 3,1 miliar akhir bulan lalu.


Di samping itu, startup besutan Nadiem Makarim juga bernilai lebih besar ketimbang sejumlah perusahaan rintisan kenamaan lainnya. Beberapa di antaranya produsen smartphone asal China bernama Meizu (USD 4,58 miliar) dan pembuat ponsel layar lipat pertama di dunia, yaitu Royole (USD 5 miliar).

Menarik untuk ditunggu bagaimana kiprah Go-Jek ke depannya. Terlebih, mereka telah mengumumkan rencananya untuk bisa beroperasi di enam negara tahun ini. (mon/afr)