Jumat, 29 Mar 2019 14:13 WIB

Dampak Sanksi AS, ZTE Merugi Rp 14 Triliun di 2018

Agus Tri Haryanto - detikInet
Foto: Reuters Foto: Reuters
Jakarta - ZTE mengalami masa sulit dalam menjalankan bisnisnya tahun lalu, seiring sanksi dari Amerika Serikat (AS) yang menilai mereka melanggar aturan embargo untuk Iran. Alhasil tahun lalu, ZTE merugi lebih dari USD 1 miliar atau Rp 14,2 triliun.

Menurut laporan perusahaan yang dikutip dari GSMArena, Jumat (29/3/2019), sebagian besar dari kerugian perusahaan ini adalah untuk membayar denda yang dijatuhkan oleh Departemen Perdagangan AS.




Setelah sempat ditangguhkan, pemerintah AS resmi mencabut sanksi ke ZTE secara sepenuhnya pada Juli 2018. Dengan begitu, perusahaan asal China tersebut akhirnya bisa menjalankan bisnisnya kembali secara seutuhnya. Keputusan ini diambil lantaran ZTE sudah memenuhi sejumlah persyaratan yang diminta lembaga tersebut. Salah satunya adalah pelunasan denda sebesar USD 1 miliar, ditambah deposit senilai USD 400 juta.

Terlepas dari semua kendala tersebut, pada periode kuartal terakhir 2018 ZTE mampu mencatatkan laba sebesar USD 41 juta atau setara Rp 583,8 miliar.




Sebagai salah satu pemain global dalam menyediakan alat telekomunikasi, ZTE berharap untuk melanjutkan pengembangan 5G dan cybersecurity, sehingga berharap dapat mencapai target laba bersih hingga USD 179 juta atau Rp Rp 2,5 triliun sepanjang tahun ini.

Seperti diketahui, 2019 menjadi awal berkembangnya jaringan 5G dengan ditandai mulai diuji cobanya operator seluler, ketersediaan chipset dan smartphone 5G. Tren itu yang menjadi semacam "juru selamat" ZTE untuk bangkit setelah melalui tahun yang berat pada 2018 kemarin.


(agt/krs)