Kamis, 31 Jan 2019 16:03 WIB

Machine Learning Bisa Dipakai Deteksi Penipu

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Foto: Chris McGrath/Getty Images Foto: Chris McGrath/Getty Images
Jakarta - Teknologi machine learning punya banyak kegunaan, salah satunya adalah bisa dipakai untuk melakukan risk assessment dalam bisnis financial technology (fintech).

Salah satu penggunanya adalah Akulaku, yang 98% risk assessmentnya dilakukan menggunakan machine learning, dan termasuk risk module untuk melaksanakan risk analysis dan anti-fraud.

Sistem ini bertujuan untuk mencegah dan meminimalisir kesalahan manual, internal fraud dan kesalahan lain yang kerap terjadi di perusahaan pembiayaan konvensional.

Akulaku sendiri mencatatkan pertumbuhan besar selama 2018 lalu, yaitu tumbuh lebih dari 300% dengan jumlah kredit yang disalurkan mencapai sekitar Rp 9,8 triliun.

Anggie Setia Ariningsih - Director of Corporate Affairs and Public Relations Akulaku Indonesia mengatakan bahwa hingga akhir tahun 2018, Akulaku telah diunduh oleh lebih dari 15 juta masyarakat Indonesia yang tersebar di seluruh Jawa, Medan, Palembang dan Padang.

"Tahun 2018 merupakan tahun yang baik bagi kami. Pertumbuhan kami di tahun 2018 membuktikan respon masyarakat yang sangat positif terhadap solusi layanan keuangan yang kami tawarkan. Di 2019 sendiri, kami menargetkan pertumbuhan penyaluran dana mencapai 300 (%) serta peningkatan pengguna hingga 2-3 kali dengan berbagai inovasi layanan baru di berbagai sektor yang secara bertahap akan kami luncurkan," ujar Anggie.

Asetku: Perusahaan P2P Lending Naungan Akulaku
Akulaku juga memperkenalkan bagian dari perusahaannya yang bergerak di bidang Peer-to-Peer Lending (P2P), PT. Pintar Inovasi Digital (Asetku). Perusahaan yang telah mendapatkan tanda terdaftar dan diawasi langsung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini mempertemukan pemberi pinjaman (Lender) dengan peminjam (borrower) terpercaya.

Menurut Andrisyah Tauladan - Direktur Asetku, pengembalian dana pokok dan bunga kepada para pemberi pinjaman selalu mencapai 100%, menjadikan Non-Performing Loan (NPL) perusahaan masih 0,00%.

"Sejauh ini pengembalian dana pokok dan bunga kami kepada para pemberi pinjaman selalu 100% dengan rata-rata portfolio per bulan sekitar Rp 50 - 100 miliar rupiah. Di tahun ini, kami menargetkan penyaluran pinjaman hingga Rp 500 miliar setiap bulan,"

"Saat ini, kami juga sedang mengembangkan kerjasama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan kapasitas risk management dan kapasitas pendanaan kita. Dalam waktu dekat, kami juga berencana meluncurkan Asetku Syariah dan pinjaman dengan segmen lender dari korporasi/institusi.

Asetku melakukan diversifikasi pendanaan dengan menyebarkan dana pemberi pinjaman kepada peminjam untuk meminimalisasikan risiko pendanaan. Keuntungan untuk pendana adalah bunga tahunan mencapai 20-24%. (asj/asj)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed