Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Heboh Pencurian ID
Jasa Perlindungan Data Kian Marak
Heboh Pencurian ID

Jasa Perlindungan Data Kian Marak


- detikInet

Jakarta - Bagi korban, pencurian identitas akan membuat mereka gelisah, pusing dan menghabiskan banyak waktu hanya untuk memulihkan kredit mereka. Tetapi bagi beberapa perusahaan, pencurian identitas konsumen malah jadi kesempatan bisnis. Lho kok?Pencurian identitas diperkirakan telah menginfeksi lebih dari 9 juta orang Amerika setahun. Kerugian yang ditimbulkan diperkirakan mencapai US$50 milyar (US$1 = Rp 10.475, sumber: detik.com). Hal ini memicu beberapa biro kredit dan bank untuk menawarkan layanan pengawasan kredit. Layanan ini didisain untuk melindungi konsumen dari aksi penipuan disertai jaminan kenyamanan serta ketenangan.Menurut survei, konsumen membutuhkan akses informasi kredit. Tetapi banyak pihak berwenang mempertanyakan apakah layanan baru itu akan mencoba meraup keuntungan di tengah-tengah ketakutan konsumen akan fenomena pencurian identitas. Beberapa perusahaan yang pernah terjebak kasus pencurian data sensitif para pelanggannya, kini mulai menjual layanan monitoring ini kepada pelanggan-pelanggan mereka. "Menghasilkan uang lewat pencurian identitas kini tengah marak terjadi di kalangan indutri mana pun. Dan ini bukan hal yang bagus," tandas Pam Dixon, Direktur Pelaksana World Privacy Forum.Javelin Strategy & Research baru-baru ini mengetahui layanan terkait memang meningkatkan keamanan pemegang rekening. Tetapi juga menguntungkan lembaga yang menawari layanan itu, termasuk meraup pendapatan dan kesempatan ngetop."Laporan kredit, mengakses laporan terus menerus dan manajemen laporan kredit adalah hal yang penting bagi konsumen. Itulah sebabnya mengapa konsumen ingin membeli layanan itu," papar John Danaher, Presiden TrueCredit, cabang TransUnion, seperti dilansir CNET yang dikutip detikinet Senin (29/8/2005).Sementara itu, Biro Kredit Equifax yang menawarkan layanan seharga US$49,95 dan US$99,95 per tahun terbukti sangat diuntungkan dengan adanya layanan tersebut. Pendapatan mereka dilaporkan meningkat 21 persen menjadi US$29,3 juta pada kuartal kedua tahun ini. Termasuk di dalam layanan terkait adalah monitoring kredit, pemberitahuan aktivitas rekening harian atau mingguan, pemberitahuan pencurian identitas serta nomor hotline bagi korban penipuan.Aksi Pencurian IDPencurian online atas informasi keuangan orang-per-orang memang telah menjadi salah satu aksi kejahatan yang tengah marak di kawasan Asia Pasifik. Setidaknya begitu informasi dari lembaga riset teknologi IDC.Salah satu contoh aksinya adalah lewat phishing. Dengan memanfaatkan e-mail tipuan, seseorang dapat saja menyerahkan informasi nomor rekening berikut nomor identifikasi pribadinya. Dan voila!, si penipu pun kini bisa mengakses rekening mereka.Teknik lain adalah spoofing dan social engineering. Teknik spoofing adalah teknik mengirim e-mail acak dengan harapan agar pengguna tertarik memberikan rincian keuangan.Sementara itu, social engineering menipu lewat alamat e-mail palsu yang nampak sah seperti dari AOL dan sebagainya. Nantinya, e-mail ini sedianya akan membuat penerima e-mail mau mengungkap detil keuangan mereka. (ien/)




Hide Ads