Sebelum ke Basel II
Oracle: Perbankan Mesti Benahi Kualitas Data
- detikInet
Jakarta -
Oracle menekankan pentingnya pengaturan kualitas data oleh perbankan di Indonesia sebelum penyesuaian adopsi standarisasi perbankan internasional Basel II. Apabila tidak, adopsi tersebut dianggap percuma.Vice President FSI Oracle untuk Asia Pasific Alan Payne dalam keterangan persnya yang diterima detikinet Kamis (25/8/2005) mengatakan penyesuaian regulasi bagi bank-bank di Asia Pasifik, khususnya Indonesia, hanya sekedar memenuhi persyaratan domestik dan internasional. Padahal penyesuaian tersebut ditujukan agar kinerja bank bisa lebih baik lagi dan tentunya meningkatkan keuntungan.Sehari sebelumnya, Senior Director Financial Services Industry (FSI) Oracle untuk Asia Pasifik Christopher Marshall juga berpendapat serupa pada presentasi Oracle tentang arsitektur yang sesuai dengan lembaga keuangan pada Asia Pasifik di Hotel Four Season Jakarta. Menurutnya, bank harus terlebih dulu mengatur data-data, seperti data-data klien bank, sebelum bank tersebut mengimplementasikan standar regulasi Basel II."Buat apa bank-bank tersebut implementasikan Basel II, tapi data-data mereka belum di-manage dengan baik. Fraud akan tetap ada," ujar Marshall. "Kualitas data sangatlah penting sebelum mereka (lembaga keuangan dan perbankan-red) menuju ke Basel II," tambah Marshall menjelaskan.Marshall juga berpendapat bahwa penyesuaian TI dengan perbankan selalu menemui masalah dan menyebabkan kekacauan pada kualitas data sebuah bank. Hal itu juga dirasa patut mendapat sorotan penting dibanding bank hanya bisa menyombongkan besarnya investasi TI daripada efektivitasnya. "Itu sebabnya kita perlu mempermudah masalah antara TI dan bank, bagaimana kita bisa mengurangi kekompleksan dengan memanfaatkan dana investasi untuk TI seefektif mungkin," papar pria yang biasa berkantor di Australia ini.Untuk diketahui saja, Basel II merupakan standarisasi perbankan yang mengetengahkan perbaikan dari kebijakan TI. Aturan main baru yang diperkirakan baru akan di implementasikan di Indonesia pada 2009. Dengan aturan tersebut, porsi tenaga TI untuk perbankan diperkirakan akan meningkat hingga 50 persen.Oracle Gali Peluang Dari Penyesuaian Regulasi PerbankanOracle beranggapan bank-bank di Asia, khususnya Indonesia, menghadapi tekanan untuk menyesuaikan diri dengan banyak regulasi dan standarisasi internasional seperti Basel II, Sarbanes-Oaxley Act,dan International Financial Reporting Standards (IFRS). Besarnya investasi yang akan dikeluarkan oleh bank, khususnya untuk teknologi informasi (TI), dianggap Oracle sebagai peluang yang signifikan.Berhubung bank-bank di Asia Pasifik oleh Oracle diperkirakan akan membelanjakan anggaran TI tahunan sebesar 6-11 persen dalam empat tahun mendatang untuk menyesuaikan dengan Basel II, Oracle nampaknya akan gencar menawarkan arsitektur yang sesuai untuk industri jasa keuangan yakni Oracle Compliance Architechture. Arsitektur tersebut diklaim oleh Oracle merupakan penggabungan dari aplikasi, database dan middleware Oracle yang diintegrasikan dalam satu kerangka kerja terpusat. Managing Director Oracle Indonesia Adi J. Rusli mengatakan Indonesia mungkin akan agak tertinggal dengan regulasi Basel II, tapi Oracle yakin mampu mengejar penyetaraan dengan negara lain dengan menyesuaikan TI dan perbankan.
(ien/)