'Diplomasi' Negara Berkembang ala IBM
- detikInet
Jakarta -
'Diplomasi' yang digelar IBM untuk meraih pasar tersebut adalah lewat pelatihan virtual dan membentuk Dewan Penasihat Penanam Modal Ventura. Negara mana saja yang menjadi target?Melalui program Virtual Mentoring miliknya, IBM akan mendukung pelatihan jarak jauh untuk pengembang di Brasil, Rusia, Cina dan India. Termasuk akses partisipan pada hardware dan software IBM yang bisa membantu mereka mengembangkan produk mereka sendiri.Selain itu, IBM telah menciptakan Dewan Penasihat Penanam Modal Ventura (Venture Capital Advisory Council - VCAC). Kelompok yang terdiri atas penanam modal ventura ini akan bertemu secara rutin dengan IBM untuk membandingkan temuan soal tren dan perusahaan-perusahaan di negara-negara tersebut. Rapat IBM dengan dewan ini akan lebih intensif dibandingkan pertemuan serupa dengan perusahaan ventura lainnya. "Kami menggunakan dewan ini untuk mendapatkan nasihat. Anggaplah sebagai penelitian ke arah mana pasar akan berjalan," ujar Buell Duncan, manajer Independent Software Vendors and Developer Relations IBM seperti dikutip detikinet dari Cnet News.com, Selasa (23/08/2005). Anggota dewan sejauh ini mencakup Tim Draper, Lip-bu Tan, dan Richard Frank. Draper adalah pendiri lembaga pasar 'Draper, Fisher, Jurvetson'. Tan merupakan eksekutif dari Walden International, sebuah perusahaan Amerika yang banyak befokus pada perusahaan semikonduktor China. Sedangkan Richard Frank merupakan CEO dari Darby Overseas Investments. Darby merupakan spesialis dalam investasi di kawasan Amerika Latin.Negara seperti Cina bukan hanya memproduksi lebih pesat dibandingkan masa lalu, mereka juga mencetak pengembang software. Pada tahun 2004, lebih dari 400 pengembang di pasar negara berkembang bergabung dengan program kerjasama IBM.Teorinya, perusahaan yang sukses menggaet populasi programer di negara berkembang akan meraup untung lebih besar dari negara-negara tersebut. Untuk menapak ke dalam pasar ini rupanya memerlukan 'diplomasi' dan 'pekerjaan mata-mata' yang khas.Sebagaimana di kawasan lainnya, IBM berminat menjual layanan dan sistem back end untuk e-government dan aplikasi lain pada pasar negara berkembang. Untuk memuluskan langkahnya, IBM mengaku telah merestrukturisasi diri untuk mengurangi konflik.Contohnya, IBM tidak akan melakukan investasi langsung. Hal ini diserahkan kepada perusahaan modal ventura setempat. IBM cukup bekerjasama dengan perusahaan semacam itu untuk tukar-menukar informasi 'intelijen', ujar Claudia Fan Munce wakil presiden untuk strategi perusahaan dan managing director Venture Capital Group IBM. Selain itu, tidak seperti beberapa pesaingnya, IBM tidak menjual software. Hal ini diharapkan akan membuat IBM tampil sebagai figur rekan yang 'aman'.
(wicak/)