Jumat, 08 Jun 2018 04:11 WIB

Uber Kucurkan Rp 7 Triliun Demi Perbaiki Citra

Virgina Maulita Putri - detikInet
Foto: Maikel Jefriando/detikFinance Foto: Maikel Jefriando/detikFinance
Jakarta - Uber berencana mengeluarkan USD 500 juta atau sekitar Rp 7 triliun untuk kampanye marketing global. Kampanye ini merupakan upaya Uber memperbaiki citranya setelah didera kontroversi setahun belakangan.

Kampanye ini sendiri telah dimulai bulan lalu di Amerika Serikat dengan ditayangkannya iklan televisi yang menampilkan CEO Uber, Dara Khosrowshahi. Selanjutnya, kampanye ini akan diteruskan dengan iklan televisi yang lebih fokus kepada produk Uber, begitu juga dengan iklan online dan billboard.

Iklan ini akan difokuskan di Amerika Serikat dan akan ditayangkan di sela-sela pertandingan playoff dan final NBA serta program televisi primetime. Kabarnya, Uber juga akan menayangkan iklan tersebut di kawasan lain seperti Eropa dan Amerika Latin.



Menampilkan Khosrowshahi, kabarnya iklan ini memicu kontroversi di kalangan internal Uber. Hal ini dikarenakan keterlibatan Khosrowshahi yang besar dan karena nada iklan yang terlihat penuh penyesalan.

Sebagian pihak khawatir iklan ini akan memberikan persepsi yang salah kepada publik yang tidak mengetahui isu-isu yang dihadapi Uber .

Ketika ditanya mengenai iklan tersebut di ajang Code Conference, Khosrowshahi membela diri dengan mengatakan bahwa iklan yang digagasnya sangat penting untuk meyakinkan konsumen bahwa Uber sudah berubah.

"Kami melakukan itu karena itu sangat penting. Agar konsumen kami dan basis target kami tahu bawa ini adalah Uber yang baru, dan kami membuka lembaran baru," kata Khosrowshahi, seperti dikutip detikINET dari The Information, Jumat (8/6/2018).

"Faktanya, publik memiliki pandangan yang negatif tentang Uber dalam dua, tiga tahun lalu yang mencederai brand kami dan melukai bisnis kami. Kita harus membalikkan pandangan tersebut," tambahnya.

Kompetitor Uber di Amerika Serikat, Lyft, juga pernah mengeluarkan puluhan juta dollar untuk kampanye marketing yang menunjukkan bahwa mereka lebih bersih dibanding Uber.



Kontroversi yang dialami Uber sendiri sangat beragam. Mulai dari perlakuan yang tidak adil kepada pengemudinya, pelecehan seksual di lingkungan kerja, dan baru-baru ini diakuisisinya Uber oleh Grab di Asia Tenggara yang mendapat perhatian dari regulator karena dugaan melanggar hukum antitrust. (rns/rns)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed