Rabu, 16 Mei 2018 16:16 WIB

Keanehan di Balik Keputusan Trump Membela ZTE

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Donald Trump. Foto: REUTERS/Leah Millis Donald Trump. Foto: REUTERS/Leah Millis
Jakarta - Sikap Presiden Donald Trump yang berbalik arah memilih untuk berada di kubu ZTE di tengah masalahnya dengan pemerintah AS menimbulkan sejumlah keanehan. Padahal sebelumnya, ia dituding jadi dalang penghancuran ZTE.

Hal tersebut juga sangat bertolak belakang jika melihat gaya kepemimpinan Trump yang selama ini mengedepankan asas 'America First' di setiap kebijakannya.

Jika mengacu pada asas tersebut, memang aneh melihat Trump yang menjamin jutaan kesempatan kerja di AS dalam masa kampanye justru memperjuangkan nasib para pekerja ZTE yang terancam kehilangan pekerjaan.

Melalui akun Twitter, Trump mengatakan, terlalu banyak pekerjaan yang akan hilang jika perusahaan asal China tersebut masih dijatuhkan hukuman berat.



Selain itu, keanehan lain yang bisa dilihat adalah perubahan sikap dari Trump sendiri. Sebelumnya, ia sangat mengkritik keras pihak China yang dituding mencuri kekayaan intelektual milik AS. Kini, pria berusia 71 tahun tersebut malah berusaha menyelamatkan perusahaan yang notabene berusaha bersaing dengan vendor asal AS seperti Apple.

Kemudian, Trump yang menginginkan AS kuat pada sektor militer dan bisnis, justru tidak mengindahkan laporan dari House Intelligence Comitte pada 2012 lalu.

Laporan tersebut menjelaskan bahwa ZTE tidak dapat dipercaya karena berpotensi menjadi ancaman keamanan nasional dan sistem dari AS, sebagaimana detikINET kutip dari The Washington Post, Rabu (16/5/2018).

Lalu, cukup aneh jika melihat Trump yang memasukkan Iran dan Korea Utara ke dalam daftar hitam, justru menjadi bersikap lunak terhadap ZTE yang diketahui mengirim perlengkapan teknologi kepada kedua negara tersebut. Lunaknya sikap Trump itu pun cukup bertolak belakang dengan sifat presiden AS ke-45 ini yang dikenal tak pernah mau mengalah.

Meski begitu, deretan keanehan tersebut bukan berarti Trump tidak memiliki alasan dalam mengeluarkan pernyataannya itu. Menurutnya, keputusannya tersebut berlandaskan pada fakta bahwa ZTE membeli banyak perlengkapan untuk kebutuhannya dalam membuat ponsel dari perusahaan asal AS.



Selain itu, beberapa senator beranggapan bahwa keputusan Trump tersebut merupakan bentuk iktikad baiknya kepada Presiden China Xi Jinping. Hal tersebut dinilai dilakukan sebagai persiapan bagi Trump untuk menemui penguasa Korea Utara, Kim Jong Un.

Di samping itu, sejumlah senator menganggap aksi Trump untuk ZTE akan berujung pada pemberian rasa tenang kepada pekerja kelas bawah di Amerika Serikat. Rasa tenang tersebut merujuk pada potensi dirugikannya para pekerja kelas bawah AS dalam perjanjian perdagangan antara Negeri Paman Sam dengan China.

Jika pernyataan Trump untuk membela ZTE menjadi masalah di AS, keadaannya berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di China. Masyarakat Negeri Tirai Bambu tersebut menyambutnya dengan suka cita. Mereka beranggapan bahwa hal tersebut merupakan hasil dari kedekatan pemimpinnya dengan Trump.

Di balik spekulasi yang berputar, masih misteri apa sebenarnya yang melandari Trump untuk melakukan pembelaan terhadap ZTE, yang dijatuhi hukuman tujuh tahun tidak boleh mengimpor perlengkapan teknologi dari perusahaan asal AS. (fyk/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed