Slamet Riyadi, Direktur Utama Tele Utama Nusantara, mengatakan ini merupakan tahun kedua mereka masuk ke dalam bisnis fintech. Namun mereka belum mengejar keuntungan, baru sebatas memperbesar segmen channeling untuk Teleshop.
"Hingga akhir tahun ini, kami memproyeksikan bisa memperoleh 500 ribu transaksi dari Teleshop. Melalui Teleshop, bisa melakukan pembayaran asuransi, BPJS, transportasi, telepon, pulsa, internet hingga e-money," kata Slamet di Jakarta, Senin (12/3/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: dok. Tele Utama Nusantara |
Setiap pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang melakukan transaksi akan memperoleh fee senilai Rp1.700 per transaksi. Slamet mengungkapkan, angka tersebut cukup menguntungkan bagi pelaku UMKM.
Adapun skema bisnis yang ditawarkan adalah business to business (B2B). Menurut Slamet, bisnis fintech ini merupakan bisnis jasa yang mengutamakan kepercayaan kepada masyarakat, sehingga mereka pun harus memperkuat sistem keamanan.
Baca juga: Tiphone Bagi-bagi Duit Dividen Rp 117 Miliar |
Setiap transaksi katanya akan dilindungi sistem keamanan yang bisa diandalkan. Dengan menggunakan password serta meliputi tiga lapis sistim keamanan khusus untuk Teleshop, struk pembelian dapat dicetak langsung setiap transaksi.
Foto: dok. Tele Utama Nusantara |
"Layanan melalui Teleshop dapat dilakukan selama 24 jam selama tujuh hari. Teknologi yang digunakan aman dan hackproof," klaim Slamet.
Lebih lanjut dipaparkan, Tele Utama Nusantara memiliki 25 ribu mitra di seluruh Indonesia. Slamet pun menargetkan pertumbuhan mitra Sobate Teleshop mencapai 100 ribu hingga akhir 2018 di 34 propinsi.
Slamet juga meyakini, 25% dari target yang ingin dicapai mereka bisa diperoleh, mengingat apa yang ditawarkan Teleshop merupakan kebutuhan yang diperlukan masyarakat sehari-hari seperti paket data, pulsa, dan token listrik.
"Untuk menjadi Sobate Teleshop tidak membutuhkan biaya besar untuk memulai usaha. Dengan modal awal relatif kecil, yakni Rp250 ribu, mitra Teleshop bisa melayani transaksi. Mitra UMKM dapat mengetahui sisa saldo mereka," ujarnya.
Slamet pun menyadari kalau sudah ada layanan sejenis yang ditawarkan seperti milik Teleshop ini. Namun dengan bisnis pemasaran voucher yang sudah dirintis sejak 2008, dan strategi yang berbeda, Slamet yakin Teleshop bisa berkembang di tengah ketatnya persaingan.
Menurut Slamet, strategi yang digunakan dalam memasarkan Teleshop adalah masuk dari remote area, daerah pinggiran. Kemudian menarik para pelaku UMKM, terutama yang unbankable, menjadi reseller yang terintegrasi dengan Teleshop.
Foto: dok. Tele Utama Nusantara
Foto: dok. Tele Utama Nusantara