LinkedIn: Berawal dari Apartemen Kini Laku Rp 349 Triliun

LinkedIn: Berawal dari Apartemen Kini Laku Rp 349 Triliun

Rachmatunnisa - detikInet
Selasa, 14 Jun 2016 15:44 WIB
Foto: Getty Images
Jakarta - Dari apartemennya, 14 tahun lalu, Reid Hoffman menyusun ide tentang LinkedIn. Jejaring sosial khusus profesional ini terus tumbuh, hingga akhirnya memikat Microsoft yang kemudian meminangnya.

Hoffman tampaknya memang berbakat di arena media sosial. Pendirian LinkedIn tumbuh dari minat pribadinya pada bidang ini. Saat mendirikan LinkedIn pada 2002, Hoffman masih menjabat sebagai CEO PayPal yang waktu itu baru dibeli eBay.

Jauh sebelum bergabung di PayPal, Hoffman menjadi pionir jejaring sosial setelah meluncurkan SocialNet di akhir 1990. Konsep mempertemukan orang-orang secara online dimulai Hoffman melalui SocialNet, yang kemudian menjadi ide dasar LinkedIn.

Hoffman membuat jejaring sosial barunya lebih spesifik, yakni memungkinkan para profesional membangun jaringan pertemanan secara online. Dengan bantuan beberapa teman mantan staf SocialNet, LinkedIn pun resmi meluncur pada 2003.

Jejaring Sosial Khusus Profesional

LinkedIn memudahkan penggunanya memposting profil karir mereka dan memperluas pertemanan untuk kepentingan profesional. Sebagian besar pengguna memanfaatkan versi gratisan dari layanan ini, namun LinkedIn tetap mencari pendapatan dengan menyediakan versi berlangganan premium bagi para perekrut dan korporat.

Minat Hoffman pada media sosial memang terlihat jelas. Salah satunya tampak ketika pria 48 tahun ini menjadi salah satu investor awal Facebook.

Meski tertarik pada konsep Facebook, Hoffman tetap yakin bahwa pengguna jejaring sosial ingin memisahkan kehidupan profesional mereka dan menyimpannya di LinkedIn.

Di LinkedIn pula akhirnya Hoffman mengabdikan diri. Selama empat tahun sejak didirikan, dia menjadi CEO. Sampai akhirnya datang mantan eksekutif Yahoo Jeff Weiner menggantikan posisinya, Hoffman pun menjadi Chairman.

Pendiri LinkedInReidHoffman


Terus Tumbuh

LinkedIn tampak menarik di mata investor. Pada 2003, Sequoia Capital ambil bagian pada sahamnya. Lima tahun kemudian, Sequoia dan pemodal lain membeli 5% sahamnya senilai USD 53 juta, sehingga meningkatkan valuasi LinkedIn menjadi USD 1 miliar.

Pada 2011, LinkedIn mencuri perhatian bursa saham New York dengan valuasi USD 4,3 miliar. Investor tak mempedulikan kerugian reguler yang dialami LinkedIn, melainkan fokus pada potensinya di masa depan.

Selain menarik perhatian investor, LinkedIn juga terus memikat anggota baru. Dimulai dari pencapaian pertamanya 100 juta pengguna, hingga terus membludak menjadi lebih dari 433 juta pengguna yang tersebar di 200 negara saat ini.

Kantor kecilnya pun berubah menjadi sebuah markas di Mountain View, California, Amerika Serikat (AS), berada satu lingkungan dengan kampus Google dan perusahaan Silicon Valley ternama lainnya. LinkedIn pun mulai berekspansi di luar AS, membeli perusahaan yang lebih kecil, dan memperkerjakan lebih banyak staf.

Jatuh Bangun

Tahun lalu, pendapatan LinkedIn hampir USD 3 miliar, namun mencatat kerugian bersih USD 166 juta. Sebagian besar pendapatannya berasal dari divisi 'talent solutions' yang dimilikinya. Divisi ini memberlakukan biaya kepada para perekrut ketika mereka mengiklankan lowongan pekerjaan dan memanfaatkan data yang disediakan LinkedIn.

Perjalanan LinkedIn memang tak selamanya mulus. Saham LinkedIn jatuh lebih dari 40% hanya dalam sehari pada Februari lalu. Ini adalah kemerosotan terburuk yang pernah dialami LinkedIn.

Lebih dari 30 makelar saham menurunkan proyeksi mereka, setelah LinkedIn mengatakan pertumbuhan pendapatan iklan online melambat 20% di kuartal empat 2015, dari 56% di tahun sebelumnya.

Jeff Weiner, Satya Nadella dan Reid Hoffman


Dibeli Murah

Sejumlah analis menilai LinkedIn dibeli Microsoft saat harganya lebih murah. Kesepakatan dengan Microsoft memang tercapai ketika harga saham LinkedIn lebih tinggi 50% dibanding saat penutupan pasar saham, Jumat (10/6/2016) lalu.

Namun jika dibandingkan dengan beberapa bulan lalu, harga yang ditawarkan oleh Microsoft tersebut ternyata jauh lebih murah. Microsoft membeli LinkedIn USD 26 miliar (Rp 349 triliun) atau USD 196 per lembar saham. Ketika sedang tinggi-tingginya, yaitu pada Februari 2015, nilai saham LinkedIn tercatat mencapai USD 267,20.

Bagaimanapun, kesepakatan di antara Microsoft dengan LinkedIn akan menciptakan perubahan baru. Microsoft berencana menggeber monetisasi LinkedIn dengan menumbuhkan pelanggan individual maupun organisasi serta melalui iklan. (rns/fyk)