Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Software Mahal Jadi Kendala Industri Animasi

Software Mahal Jadi Kendala Industri Animasi


Rachmatunnisa - detikInet

Foto: detikINET/Rachmatunnisa
Jakarta - Dibandingkan beberapa tahun sebelumnya, tren industri kreatif di Indonesia lebih bergairah. Animasi menjadi salah satu di antaranya yang bertumbuh pesat.

Dikatakan Indonesia Industry Sales Manager Media and Entertainment Autodesk Rudi Wirawan, tiga hal yang menjadi perhatian Autodesk dalam pertumbuhan industri kreatif di Indonesia, yakni animasi, game dan film.

"Seperti animasi itu perkembangannya cukup pesat. Setidaknya terlihat sekarang banyaknya studio animasi bermunculan, tidak hanya di Jakarta, tetapi juga di daerah-daerah seperti Malang, Jogja dan lain-lain," sebutnya dalam media briefing Autodesk di Decanter Wine & Food, Plaza Kuningan, Jakarta, Rabu (6/4/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Software Mahal


Namun menurut Rudi, di balik berdirinya studio animasi, ada beberapa masalah, antara lain soal harga software untuk menciptakan animasi 3D yang relatif mahal. Software pengolah 3D, bisa dibanderol puluhan juta rupiah.

Autodesk sendiri dikenal dengan sejumlah softwarenya seperti 3DS Max dan 3DS Maya yang harganya bisa berada di kisaran Rp 45 jutaan. Tak heran, studio animasi harus mengeluarkan biaya besar untuk belanja software.

Beban biaya juga masih harus ditambah untuk mencari animator yang mengerjakan proyek. Rudi menyebutkan, sebuah proyek penggarapan animasi melibatkan banyak animator, karena untuk pengerjaannya diperlukan waktu dan tenaga yang tidak sedikit.

"Per proyek itu memerlukan hingga 100 lisensi software. Belum lagi harus merekrut banyak animator. Karena satu proyek animasi bisa dikerjakan sampai lima studio animasi. Jadi bisa dibayangkan betapa besar modal yang harus mereka keluarkan," papar Rudi.

Masalah ini dibenarkan Antonius Rudi dari studio Lokcay Architectural 3D Artwork. Rudi yang di luar pekerjaannya juga mengajari anak-anak putus sekolah menggarap karya visual 3D, berharap anak-anak didiknya bisa terus berkarya tanpa terhambat mahalnya biaya untuk software.

"Perlu pendanaan di awal-awal itu saya juga merasakan. Nah, bagaimana kalau anak-anak ini selanjutnya akan membuat startup, salah satu hambatannya adalah di awal perlu investasi biaya tinggi. Ke depan industri visualisasi itu akan terus berkembang dan bertransformasi," ujarnya.

Sasar Startup & UKM


Untuk menghemat biaya, banyak studio animasi yang baru merintis, menyiasatinya dengan memanfaatkan software open source. Tampaknya Autodesk belakangan melihat peluang dari kondisi ini.

Menyasar segmen small medium business (SMB) alias UKM dan startup, Autodesk pun menggeber sistem subscription atau berlangganan baru yang direalisasikannya sejak 1 Februari 2016.

Autodesk mengklaim update ini memungkinkan para creator di industri visualisasi memiliki lebih banyak pilihan subscription sejumlah produk dan kode lisensi yang diklaim lebih murah dan mudah.

Rudi Wirawan menyebutkan, kebijakan sistem baru ini adalah salah satu bukti dukungan Autodesk dalam ikut memajukan ekonomi kreatif di Indonesia.

"Jadi produk kami bisa digunakan untuk project base. Untuk menjawab kebutuhan animator itu sendiri, kita juga bekerjasama dengan sejumlah universitas, ada juga studio animas seperti di Kudus, itu kami berilan lisensi gratis atau paket subscription khusus," katanya.

Sementara itu, Country Manager ACA Pacific Wiranto, selaku distributor Autodesk di Indonesia menambahkan, dengan diluncurkannya sistem baru ini, Autodesk juga menghentikan perpetual licenses atau lisensi tak terbatas sejak 31 Januari 2016.

Artinya, sebagian besar produk Autodesk kini menjadi produk berbasis langganan secara menyeluruh, sehingga diklaim akan lebih hemat bagi para animator yang pekerjaannya cenderung menggarap per proyek.

"Banyak teman-teman di industri ini harus membayar lisensi jangka panjang, padahal hanya dipakai untuk proyek selama 1 tahun atau bahkan cuma 6 bulan kan sayang. Sekarang jadi lebih fleksibel term subscription-nya. Sistem baru ini jadinya cocok untuk menjangkau startup dan skala SMB," klaimnya.

Sebagai perbandingan, harga software 3DS Max sebelumnya ditawarkan Rp 39 juta. Dengan sistem berlangganan yang baru, harganya menjadi Rp 13.230.000. Sedangkan 3DS Maya yang semulaΒ  harganya Rp 45 juta menjadi Rp 15.214.000. (rns/rou)
TAGS







Hide Ads