Jumlah transaksi e-money ini meningkat 900% dibandingkan tahun sebelumnya yang cuma 5,3 juta kali menjadi 42 juta transaksi. Sedangkan nilai transaksinya melesat lebih dari 1.000% dari Rp 190 miliar menjadi Rp 2,5 triliun.
"Dari 42 juta transaksi senilai Rp 2,5 triliun itu mayoritas berasal dari airtime top-up, bill payment, dan online payment," kata Randy Pangalila, Group Head Mobile Financial Services Indosat Ooredoo di Swiss-Belhotel Maleosan, Manado, Rabu (3/2/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan untuk agen yang aktif, jumlahnya juga bertambah. Dari 11.946 menjadi 114.713 agen. Sementara dari sisi penggunanya juga meningkat hampir dua kali lipat dari 1,3 juta pada tahun lalu, menjadi 2,5 juta di penghujung 2015.
"Kami memang tumbuh pesat, tapi itu belum cukup karena potensinya masih besar. Kita butuh membangun ekosistem. Caranya harus melalui kolaborasi antara operator telekomunikasi dan perbankan. Tak bisa jalan sendiri-sendiri," tutur Randy.
Dari sisi kontribusi ke perusahaan, meskipun tumbuh pesat, layanan e-money ini diakui belum memberikan kontribusi signifikan. Menurutnya masih di bawah 1% dari total target pendapatan Indosat yang membidik angka keseluruhan Rp 28 triliun.
"Walaupun masih kecil, tapi fee base income kami sudah setengah dari bank buku tiga (BTPN) yang sudah beroperasi lebih dari 10 tahun dengan banyak kantor cabang. Sementara kami baru jalan setahun terakhir," pungkasnya. (rou/asj)