Pemanfaatan teknologi cloud seakan sudah jadi hal biasa yang diterapkan banyak perusahaan. Tapi menurut NetApp, teknologi cloud saat ini tak benar-benar fleksibel karena masih memaksa pengguna mengikuti standar tertentu. Data Fabric menjadi jawaban NetApp terhadap tantangan itu.
Adapun yang ketidakfleksibilitas yang dimaksud terjadi ketika pengguna korporasi yang menggunakan layanan cloud ingin melakukan migrasi dari satu layanan cloud ke layanan lainnya. Menurut Sonny Affen, Senior Tehnical Consultant NetApp Indonesia, tiap-tiap layanan cloud memiliki format standar yang berbeda.
Perbedaan inilah yang secara tidak langsung telah mengekang penggunanya. Karena mereka jadi harus melakukan sejumlah proses yang makan waktu untuk melakukan penyesuaian, tiap kali ingin berpindah layanan cloud.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
βLayanan cloud saat ini tidak benar-benar fleksibel karena pengguna harus mengikuti format standar yang digunakan layanan cloud tersebut. Ini bikin seakan-akan data pengguna di cloud jadi bukan miliknya. Karena kalau pengguna ingin memindahkan datanya ke infratsruktur atau layanan cloud lain maka harus melakukan penyesuaian untuk mengikuti format standar yang selanjutnya akan dipakai,β ujar Sonny.
Dalam acara tahunannya yang bertajuk Insight 2015, NetApp sendiri ingin makin mempopulerkan Data Fabric di kalangan korporasi. Pun begitu sebenarnya teknologi Data Fabric telah diperkenalkan ke publik sejak sekitar setahun lalu.
Phil Brotherton, VP Data Fabric Group NetApp mengatakan, saat ini telah ada sekitar 6.400 pengguna perusahaan, lebih dari 230 partner, dan 275 layanan cloud yang sudah menggunakan Data Fabric setelah setahun sejak diluncurkan.
β(Ini bukti) Data Fabric itu nyata. Penggunanya bisa berinovasi lebih baik dengan Data Fabric. Sudah banyak yang menggunakan dan membuktikannya,β kata Phil Brotherton, VP Data Fabric Group NetApp, dalam acara NetApp Insight 2015, di Mandalay Bay Resorts, Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat.