Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Kolom Telematika
Apa Nilai Penting Big Data bagi Bisnis?
Kolom Telematika

Apa Nilai Penting Big Data bagi Bisnis?


- detikInet

Adi Rusli (emc)
Jakarta - Anda mungkin telah mendengar pembicaraan tentang Big Data. Tapi apa artinya Big Data bagi Anda dan bisnis?

Yang penting lagi, bagaimana Anda dapat memahami manfaat Big Data untuk menyelesaikan masalah dengan cepat, mempercepat inovasi dan mendorong pertumbuhan untuk keunggulan yang kompetitif?

Potensi teknologi Big Data terdapat pada penciptaan wawasan bisnis dari sejumlah besar data yang belum digunakan dalam dunia digital dengan analisis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk menghasilkan wawasan bisnis, seseorang harus memahami perubahan data. Pertumbuhan data yang tercipta seperti dokumen, foto dan musik yang diunduh dll. bukanlah hal baru, tapi yang mengejutkan adalah peningkatan pertumbuhan.

Studi tahunan IDC yang terbaru tentang dunia digital telah memperlihatkan peningkatan data dua kali lipat setiap 2 tahun sampai 2020. Pada tahun 2020, IDC memprediksi bahwa 62% dunia digital akan berasal dari negara berkembang.

Yang lebih mengejutkan, jumlah informasi yang dibuat tentang orang lain lebih besar dari informasi yang dibuat orang untuk dirinya sendiri. Sebagai tambahan, sebagian besar data baru yang dihasilkan tersebut tidak terstruktur.

Video, contohnya, adalah hiburan yang diprediksikan akan mengambil 46,7% data di awan di tahun 2020. Ini berarti bahwa lebih sering dari yang kita ketahui tentang data tersebut, kecuali data tersebut dibedakan atau ditandai sehingga menciptakan metadata.

Konsumsi data dengan meningkatnya mobilitas dan pengguna smartphones dan tablet, yang tidak memiliki penyimpanan internal besar dan sangat bergantung pada konsumsi informasi dari awan, berarti hampir 40% informasi dalam dunia digital akan disimpan dan diproses di awan selama perjalanannya dari tempat asal ke tempat pembuangan.

Nilai penting dari Big Data adalah analisis data dan hasil wawasan bisnis yang mengarah pada keputusan cerdas. Sementara tidak semua data berguna bagi analisis Big Data, beberapa tipe data memang disiapkan untuk analisis, seperti pola dalam penggunaan social media, hubungan dalam data scientific dari studi terpisah, informasi medis yang berhubungan dengan data sosiologi, rekaman kamera keamanan dan sebagainya.

Data dan wawasan bisnis mengubah cara kita melakukan bisnis. Keputusan berdasarkan data disiapkan untuk memperkuat atau melemahkan penilaian manusia dan spekulasi, dimana keputusan manajerial dibuat atau dikonfirmasi oleh model prediktif dan analisis big data.

Bisnis akan berjalan baik dengan mengadopsi infrastruktur TI lebih cepat seperti, perangkat keras, perangkat lunak, layanan, telekomunikasi dan staf untuk menjadi yang terdepan dalam kompetisi, terutama ketika data besar diperlukan untuk analisis tren dibanding mencari publisitas singkat.

Biaya investasi menurun karena investasi per gigabyte akan turun dari USD 2,00 menjadi USD 0,20 dan bisnis akan meningkatkan investasi TI mereka sebesar 40% di tahun 2020.

Di sisi lain, wawasan yang terlewatkan oleh organisasi memiliki biaya yang jauh lebih tinggi dalam memecahkan masalah dengan cepat, mempercepat inovasi dan mendorong pertumbuhan. Biaya pengumpulan data akan menjadi investasi, tapi biaya analisis yang tidak efektif akan menjadi lebih tinggi.

Dasar wawasan real-time untuk mengoptimalkan dan meningkatkan keuntungan adalah infrastruktur Big Data. Komputasi awan membantu memperluas infrastruktur perusahaan dalam hal fleksibilitas dan skalablitas yang mampu menangani peningkatan volume dan kompleksitas data.

Untuk memaksimalkan potensi inisiatif bisnis, Big Data perlu dijalankan di seluruh bagian mulai dari keuangan, pembelian hingga pengembangan produk dan pengalaman konsumen.

Bisnis harus mengatasi pembagian informasi dan proses di seluruh organisasi, karena tantangan informasi seperti volume, keberagaman, dan kecepatan, kemanan dan isu tata laksana, jika tidak terpecahkan, dapat memperlambat organisasi dalam menciptakan perubahan, proyek yang sulit dikendalikan, peningkatan visi internal organisasi, resiko bisnis dan biaya operasi TI yang tinggi.

Dengan lebih banyak efisiensi dalam infrastruktur mereka, administrator TI dapat fokus pada inisiatif nilai tambah seperti kebijakan 'Bring Your Own Device' (BYOD), analisis Big Data, efisiensi untuk pelanggan, keamanan, dll.

Bagian penting dari infrastruktur TI meliputi sumber daya manusia hingga proses, analisis serta pemakaian wawasan dan data secara efektif. Sehubungan dengan pertumbuhan data, jumlah server (virtual dan fisik) di seluruh dunia akan tumbuh dengan kelipatan 10 dan jumlah informasi dikelola langsung oleh perusahaan.

Pusat data akan tumbuh dengan kelipatan 14, sementara itu, jumlah professional TI di dunia akan tumbuh kurang dari kelipatan 1,5. Faktanya, di Asia Pacific, Gartner memprediksikan bahwa Big Data akan mencipatakan lebih dari 960.000 pekerjaan baru TI pada tahun 2015.

Kekurangan data scientist akan menjadikan tantangan dua kali lipat: membuat data scientist yang kita miliki bekerja seproduktif mungkin, sementara kita berinvestasi pada pelatihan data scientist baru.

Demokratisasi Big Data dan analisis sehingga ahli dengan pengalaman relevan dan pemahaman tentang inisiatif dapat membagi nilai dari set data akan mengurangi kelangkaan data scientist dengan keahlian TI yang spesifik dan kemampuan

Peluncuran pusat Pivotal Innovation baru-baru ini menghadirkan peluang menarik untuk mendorong perubahan dalam cara big data diaplikasikan di perusahaan saat ini, dengan memanfaatkan aplikasi, data dan teknologi awan dan di saat bersamaan mendukung program pelatihan dan seminar sehingga pekerja memahami ilmu data dengan lebih baik.

Masalah lain yang muncul di era data ini adalah banyak dunia digital yaitu tidak terlindungi. IDC memperkirakan bahwa sepertiga dari data membutuhkan perlindungan (tumbuh lebih dari 40% di 2020), untuk melindungi privasi, mencegah pengintaian dan pencurian serta mematuhi perubahan peraturan. Saat ini hanya seperlima yang memiliki perlindungan dan bahkan kurang dari itu di negara-negara berkembang.

Masa depan digital kita berkembang dan menjadi semakin mobile, sehingga akan membutuhkan perlindungan lebih. Keamanan informasi global memaksa hukum dan peraturan untuk sejalan, namun perbedaan dan ketidakhadiran tetap akan ada.

Untuk itu, manager TI membutuhkan pemahaman lebih baik tentang informasi keamanan geografis untuk mengelola dan membedakan permintaan data.

Peran TI dalam organisasi memperbesar tanggung jawab untuk mengelola penyimpanan, analisis, dan pengiriman kontan zettabytes; ini membutuhkan pemahaman dan kolaborasi melalui organisasi.

Bisnis yang mengumpulkan data signifikan harus memanfaatkan asset ini untuk mempertahankan keunggulan kompetitif dan finansial. Data scientist dan analis departemen harus menghasilkan wawasan yang dapat ditindaklanjuti untuk berkembang, sehingga pihak-pihak yang dapat memperlihatkan hasil berarti dari analisis Big Data akan dicari.

Pertanyaan yang harus ditanyakan perusahaan pada dirinya sendiri adalah: apakah organisasi siap untuk menciptakan, mengelola, dan mengkonsumsi data triliunan gigabyte? Bisnis perlu mempersiapkan keseimbangan tepat dari teknologi, kemampuan TI, dan keamanan mulai saat ini.

*) Penulis, Adi Rusli merupakan Country Manager EMC Indonesia.


(ash/ash)





Hide Ads