Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Laporan dari Orlando
IBM Gantungkan Asa Bisnis Setinggi 'Awan'
Laporan dari Orlando

IBM Gantungkan Asa Bisnis Setinggi 'Awan'


Achmad Rouzni Noor II - detikInet

Suasana acara (rou/inet)
Orlando -

IBM yang dulunya pernah sangat berjaya di bisnis komputer PC, kini ingin mengulangi lagi masa-masa keemasannya di era komputasi awan. Cloud computing bahkan diakui sebagai lumbung pemasukan terbesar perusahaan saat ini.

Dalam upayanya merajai bisnis cloud dunia, perusahaan yang didirikan pada 1911 silam ini pun rela menggelontorkan uang lebih dari USD 6 miliar untuk mengakuisisi lebih dari selusin perusahaan cloud sejak 2007. Tercatat, 10 akuisisi di antaranya digeber sejak 2010 demi roadmap bisnis cloud 2015.

Seperti disaksikan detikINET langsung dalam acara IBM Enterprise 2013 di Orlando, AS, Chief Operating Officer IBM Jeanette Horan, memaparkan secara detail rencana bisnis perusahaan untuk jangka waktu dua tahun ke depan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Raksasa teknologi ini menargetkan, dari cloud computing saja pihaknya bisa mendulang pendapatan sekitar USD 7 miliar di 2015. Pendapatan ini diharapkan datang dari lini bisnis penyediaan jaringan dan penyewaaan fasiitas cloud, serta akses untuk bisnis SaaS alias Software-as-a-Services.

"Cloud adalah pendorong pertumbuhan untuk IBM, satu dari empat lini bisnis utama kami. Pendapatan IBM di cloud tumbuh 80% pada 2012. Dan di paruh pertama 2013 ini, pendapatan cloud juga naik lebih dari 70%," papar Horan.

IBM yang memiliki 47 ribu karyawan di seluruh dunia, 37 ribu di antaranya merupakan cloud expert di industri yang mengoperasikan 25 pusat data cloud secara global. 40% dari total karyawannya itu pun bekerja secara remote dan 100 ribu di antaranya menggunakan perangkat yang dibawa sendiri alias BYOD--bring your own devices.

Dipaparkan oleh Horan, setiap harinya ada sekitar 5,5 juta transaksi pelanggan yang lalu-lalang di server cloud B2B milik IBM. Tercatat juga, ada 2 miliar dokumen pelanggan yang dipertukarkan setiap tahunnya lewat jaringan cloud IBM--yang juga digunakan untuk lebih dari 300 ribu transaksi global di dalamnya.

Dari klien di industri transportasi, IBM mencatat ada lebih 180 juta transaksi dan USD 4 miliar yang dihasilkan dari bisnis angkutan yang dikelola setiap tahunnya melalui IBM B2B cloud. Bahkan, IBM juga menguasai bisnis private cloud dengan lebih dari 5 ribu private cloud engagement.

Bisnis Cloud di Indonesia

IBM dalam kesempatan ini memang tak mau merinci pendapatan dari bisnis cloud di tiap regional, termasuk di Indonesia. Namun tingginya adopsi cloud computing di Indonesia menjadikan pasar pengelolaan data di negeri ini juga menjadi incaran raksasa teknologi ini.

Gurihnya pasar cloud computing di Indonesia setidaknya bisa terlihat dari kalkulasi IDC dimana dalam 3 tahun ke depan pertumbuhan industri cloud computing ditaksir mencapai Rp 6,59 triliun. Menurut perkiraan IDC, potensi bisnis public cloud di Indonesia tumbuh pesat dari USD 145 juta di tahun 2013 menjadi USD 587 juta pada tahun 2017.

Menjulangnya bisnis cloud juga didorong oleh tingginya adopsi layanan pengelolaan big data yang diyakini akan meningkat secara signifikan dalam waktu dua hingga tiga tahun mendatang. Big data menjadi isu penting, sebab perkembangannya sangat tinggi, dipicu dari pertumbuhan pengguna internet dan mobile devices, seperti komputer tablet dan smartphone.

IBM meyakini, jika big data bisa dianalisis secara tepat, dapat mendorong bisnis dan kinerja perusahaan. Seperti disampaikan oleh Senior Vice President System & Technology IBM, Tom Rosamilia, dunia usaha membutuhkan empat pilar teknologi, yakni big data, mobility, cloud, dan social.

"Keempat pilar ini akan mendorong evolusi bisnis secara bersamaan. Apalagi saat ini persaingan bisnis meningkat dan menuntut adanya inovasi, diferensiasi, dan valuasi produk," paparnya dalam keynote speech di awal acara.

Dari keempat pilar tersebut, cloud adalah teknologi yang paling mudah diadopsi, sebab tren penggunaannya semakin meningkat. Berdasarkan riset IDC, lebih dari 50% CIO di Indonesia telah mengadopsi layanan cloud, yakni Infrastructure-as-a-Service (IaaS).

IBM yang juga mengusung data analytics untuk cloud pun sudah bersiap untuk menggarap pasar bisnis ini lebih serius lagi. Sejumlah inovasi untuk solusi bisnis enterprise pun disiapkan. Salah satunya adalah Pure System yang dibangun lewat teknologi Smart Cloud IBM.

(rou/fyk)







Hide Ads
LIVE