Ratusan start up berkompetisi dalam iMulai 4.0, sebuah ajang berskala nasional berbasis TIK hasil kerjasama Microsoft dan United States Agency for International Development (USAID). 10 pemenangnya pun sudah didapat yang mana diharapkan ke depannya akan menjadi pemimpin di dunia industri.
Sebenarnya kesulitan apakah yang dihadapi start up di Tanah Air? Dalam sela-sela acara Awarding and Closing Ceremony yang bertempat di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (24/5), Deputi Menko Perekonomian Edy Putra Irawady berbincang dengan detikINET mengenai hal tersebut.
Β
Edy mengungkapkan bahwa masalah utama yang dihadapi sebuah start up yakni berupa modal awal dan lisensi.
"Kelemahan paling banyak di licensing. Jadi kita upayakan licensing untuk start up diusahakan tidak lebih dari 7 hari," ujar Edy. Kemudian permasalahan kedua yang muncul adalah beban usaha pemula.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Β
"Self capital, beban usaha pemula itu besar. Sekarang untuk mengurus perijinan dibutuhkan uang Rp 1,5 - Rp 5 juta tergantung bentuknya, CV atau firma," jelas sosok berkumis ini.
Oleh karena itu, pemerintah lah yang harus mengambil 'beban' tersebut. Edy mengatakan bahwa dari seleksi iMulai, pihaknya akan membuatkan entitas tersebut dan membayari perijinannya. "Masa depan start up menjadi pekerjaan rumah pemerintah dan pengembang entrepreneur," pungkasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, sebanyak lebih dari 280 proposal terkumpul di meja panitia kompetisi iMulai 4.0. Angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan kompetisi iMulai 1 sampai 3, demikian juga dengan jumlah peserta workshop yang juga meningkat. Hal tersebut mengindikasikan betapa start up mulai dilirik oleh masyarakat Indonesia.