Atas dasar alasan itu, komunitas Indonesian Cloud Forum (ICF) bersama dengan lembaga riset Mars Indonesia coba meneliti kesiapan UMKM dalam mengadopsi inovasi komputasi awan yang diyakini akan meraih momentumnya di 2012 ini.
"Riset dan penelitian akan dilakukan di delapan kota di Indonesia, dengan tujuan agar cloud semakin berkembang dan menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi di Indonesia," kata pendiri Indonesian Cloud Forum Teguh Prasetya di Jakarta, Selasa (17/1/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Teguh, potensi UMKM di Indonesia untuk mengadopsi cloud computing sangat besar. Terlebih, sektor ini juga kebal terhadap krisis, dan sudah teruji ketegarannya pada saat krisis terjadi pada tahun 1998 dan 2008.
Ia menegaskan potensi UMKM tersebut menarik pihak penyedia layanan komputasi awan (cloud provider) terutama untuk mengantisipasi makin banyak dan murahnya koneksi internet hingga ke pelosok-pelosok.
Gabungan antara potensi UMKM dan kemudahan aplikasi cloud untuk berbagai kebutuhan pengelolaan data pada UMKM mulai dari pengelolaan Customer Relationship Management (CRM) hingga Enterprise Resource Planning (ERP) akan membuat cloud di Indonesia menjadi suatu industri bermasa depan cerah.
"Riset ini akan membantu para cloud provider untuk mengenali UMKM yang potensial dan aplikasi yang dibutuhkannya. Ini akan memudahkan cloud provider masuk ke pasar," pungkasnya.
Operations Director Mars Indonesia, Sasotya Pratama mengungkapkan, UMKM yang akan diteliti berbasis di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Semarang, Solo, Yogya, Medan, dan Makassar dengan jumlah 1.650 responden yang merupakan pemilik maupun pengelola UMKM.
"Melalui riset ini akan diketahui karakteristik UMKM dalam mengadopsi teknologi informasi dan komunikasi, penggunaan komputer dan Internet dalam pengelolaan bisnis mengukur presentase melek internet, mengukur pengetahuan terhadap teknologi Internet dan cloud, serta mengukur seberapa besar kebutuhan terhadap cloud," ujarnya.
Penelitian dilakukan melalui dua pola riset yaitu desk research yaitu pengumpulan dan analisa data penunjang (sekunder), dengan tujuan untuk mengetahui perkembangan UMKM, jumlah UMKM, dan besaran kredit yang telah dikucurkan oleh perbankan kepada UMKM.
Selanjutnya quantitative research dilakukan melalui metode wawancara face-to-face untuk mengungkapkan tujuan-tujuan di atas.
"Pada pertengahan Maret 2012 hasil dari riset tersebut sudah diterbitkan, dan juga akan dibuat dalam bentuk buku," pungkas Sasotya.
(rou/ash)