"Saya kira dihindari monopoli, saya tetap berpesan kalaupun ini terjadi penggabungan harus tetap dalam koridor bisnis yang sehat sebagai pelaku bisnis telekomunikasi," ujar Menteri BUMN Mustafa Abubakar, saat ditemui di Kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (10/6/2010).
Flexi saat ini tercatat sebagai operator CDMA terbesar pertama di Indonesia, sementara esia yang dimiliki oleh PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) merupakan operator CDMA terbesar kedua.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mustafa menyatakan pihaknya sudah memberikan sinyal merestui penggabungan kedua provider CDMA tersebut walaupun surat balasan kepada pihak Telkom atas permintaan gabungan tersebut belum diberikan.
"Iya secara resmi belum dibalas, tapi secara prinsip sudah oke, go. Sudah bilang ke Pak Rinaldy (Dirut Telkom), secara prinsip oke. Sekarang tahapnya adalah melanjutkan negosiasi pihak sana-pihak sini bertemu untuk mencari formula yang win-win," tegasnya.
Mustafa menilai penggabungan dua operator CDMA tersebut merupakan penambahan kekuatan bagi Telkom.
"Itu aksi korporasi. Kalau mereka minta arahan dari Kementerian wajar-wajar saja secara prinsip kita melihat gabungan itu positif, penambah kekuatan bagi Telkom," ujarnya.
Ia melihat penggabungan itu bukan mengisyaratkan Telkom mengalami kerugian. Hal tersebut, lanjutnya, terlihat dari jumlah pelanggan Telkom yang justru lebih banyak dari Esia. Telkom memiliki 15 juta pelanggan, sedangkan Esia 10-12 juta pelanggan.
"Tidak rugi. Dan mereka juga saya rasa Pak Rinaldy sudah ada hitung-hitungan pasti sehingga merasa ada keyakinan kerjasama ini lebih keuntungan dari tidak. Kita kan sekitar punya 15 juta pelanggan, mereka kan 10-12 juta pelanggan, kalau ini dikerjasamakan menjadi satu kekuatan yang solid mungkin lebih mudah mengejar pertumbuhan," urainya. (nia/fw)