Jawabnya: harus bisa. Itulah keyakinan yang coba ditanamkan dalam-dalam oleh D-One, salah satu dari ratusan ponsel merek lokal yang coba bertahan.
"Kami berupaya keras supaya tidak terkena dampak krisis," tulis Sung Khiun, Direktur Sales & Marketing PT Sarindo Nusa Pratama, pemilik brand dan distributor D-One, Jumat (24/10/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Krisis ekonomi global bakal mempengaruhi keberadaan ponsel brand lokal. Kami estimasikan, jumlahnya di tahun 2009 tidak akan sebanyak pada tahun ini, karena dampak krisis baru akan terasa sekali pada tahun depan," kata Shung Khiun lagi.
Selain biaya yang makin tinggi, sementara harga jual kian kompetitif, merek ponsel yang tidak didukung dengan modal kapital besar akan kesulitan. Selain itu, ketiadaan sentra servis yang memadai, membuat merek lokal tertentu, kesulitan memberikan layanan purna jual.
"Kami percaya bisa bertahan karena D-One telah memilliki 30 titik sentra servis di kota-kota besar di seluruh Indonesia," sambung Presdir Sarindo, Jap Ming Hau.
Jap mengaku tak main-main dalam memasarkan D-One. "Ini sudah komitmen kami mendistribusikan ponsel dengan cara terbaik dengan sentra servis sendiri. Jika sentra servis ponsel merek lokal umumnya menempel dengan brand lain, maka tidak demikian dengan kami. Sentra servis D-One berdiri sendiri sehingga kami bisa memberikan layanan terbaik untuk konsumen."
Sebagai bukti keseriusannya, lanjut Jap, D-One pun terus menggelontorkan ponsel mereka ke pasaran. Sejauh ini, sudah ada sepuluh unit ponsel yang beredar, dimana lima diantaranya baru saja dirilis, yakni seri DM729, DM719, DG618, SG108, dan SG118.
Well, kita tunggu saja sejauh mana D-One dan ponsel merek lokal lainnya bisa bertahan. Omong-omong soal ponsel, ngobrol bareng yuk sama teman-teman lainnya di detikINET Forum!
(rou/wsh)