Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Tiga Langkah Antisipasi Gangguan Palapa Ring

Tiga Langkah Antisipasi Gangguan Palapa Ring


- detikInet

Papua - Pemerintah menyiapkan tiga skema alternatif jika akhirnya megaproyek Palapa Ring terganggu akibat terbatasnya penyedia jaringan yang bisa membangun serat optik bawah laut dan mundur laginya anggota konsorsium.

Dirjen Postel Depkominfo Basuki Yusuf Iskandar menuturkan, tiga langkah tersebut ialah menambah dana keikutsertaan anggota konsorsium yang tersisa, mencari investor baru, atau kemungkinan terburuk mengurangi kapasitas jaringan serat optik yang akan dibangun.

"Apapun hambatannya, Palapa Ring tetap harus jalan," tegasnya kepada sejumlah wartawan di sela-sela perjalanannya di Jayapura, Papua, Kamis (21/8/208).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jika pembangunan serat optik di jalur laut (submarine cable) terhambat gara-gara masih penuhnya jadwal galian kabel para vendor dunia yang bisa membangun sistim komunikasi kabel bawah laut (SKKL), Basuki menyarankan untuk mendahulukan jalur darat (inland cable).

"Kalau submarine cable belum bisa dibangun, mungkin bisa inland cable dulu yang dibangun. Misalnya di Manado dan Sulawesi Tenggara," ujarnya.

Sementara, terkait kemungkinan mundur laginya anggota konsorsium, Basuki berharap masalah tersebut bisa diselesaikan dalam minggu ini. Basuki mengatakan, pihak Powertek Utama Internusa telah menemui dirinya untuk menyatakan komitmen sebagai anggota konsorsium Palapa Ring.

"Tapi saya tegaskan kepada Powertek, bentuk komitmen mereka harus nyata, jangan hanya di mulut saja. Kalau minggu ini mereka belum bisa memenuhi komitmen dengan menyetor 5% biaya awal yang disepakati, mereka akan menyerah mundur. Tapi kami harap, mereka tetap ikut jalan," tandasnya.

Palapa Ring sendiri merupakan program untuk membangun tulang punggung (backbone) infrastruktur serat optik sambungan internasional yang terdiri dari 7 cincin (ring) melingkupi 33 provinsi dan 460 kabupaten di kawasan timur Indonesia.

Megaproyek yang awalnya membutuhkan biaya US$ 225 juta itu terdiri dari 35.280 kilometer serat optik bawah laut (submarine cable) dan 21.708 kilometer serat optik bawah tanah (inland cable).

Setiap cincin nantinya akan meneruskan akses frekuensi pita lebar dari satu titik ke titik lainnya secara last mile di setiap kabupaten. Akses tersebut akan mendukung jaringan serat optik pita lebar berkecepatan tinggi dengan kapasitas 300 Gbps hingga 1.000 Gbps di daerah tersebut.

Mulanya, proyek tersebut akan dibangun tujuh perusahaan yang tergabung dalam suatu konsorsium. Ketujuh perusahaan itu adalah PT Bakrie Telecom Tbk, PT Excelcomindo Pratama Tbk, PT Indosat Tbk, PT Infokom Elektrindo (termasuk PT Mobile-8 Telecom Tbk), PT Powertek Utama Internusa (representasi Linbrooke Worldwide Ltd), PT Macca System Infocom dan PT Telkom Tbk.

Namun setelah Macca System Infocom dan Infokom Elektrindo mundur, kini giliran Powertek Utama Internusa yang terancam hengkang dari konsorsium karena belum juga menyetor dana komitmen awal yang seharusnya diserahkan Juni lalu sesuai perjanjian Consortium Construction Management Agreement (CCMA).


Punya unek-unek seputar para operator tanah air? Tuangkan di detikINET Forum. (rou/dwn)







Hide Ads