Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Industri Ringback Tone Lebih Menjanjikan

Industri Ringback Tone Lebih Menjanjikan


- detikInet

Jakarta - Industri ringback tone (RBT) dinilai lebih menjanjikan dibandingkan industri musik konvensional. Sebab, pendapatan dari layanan nada sambung pribadi itu jauh membumbung di atas hasil penjualan keping lagu dan kaset.

Menurut Wakil Dirut Pemasaran Bakrie Telecom, Erik Meijer, lagu RBT yang dipakai sebagai nada sambung pribadi oleh pelanggan telepon bisa mencapai tujuh juta aktivasi setiap bulannya.

"Bagi operator telekomunikasi, kontribusi revenue dari RBT memang tidak lebih dari lima persen. Namun bagi industri rekaman, kontribusinya lebih dari lima puluh persen," ujarnya di sela peluncuran program RBT Esia, di Amadeus, Setiabudi One, Jakarta, Selasa (5/8/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal itu diamini Shanti, penyanyi yang kini mengandalkan RBT untuk mendulang pundi pendapatannya. "RBT betul-betul jadi bisnis menjanjikan bagi industri rekaman. Kalau dibandingkan penjualan CD atau kaset secara konvensional, RBT memang lebih baik dari segi pemasukan," selorohnya.

Erik juga menambahkan, RBT kini menjadi salah satu jalan keluar untuk mengeliminir tingkat pembajakan di industri musik. Menurutnya, pemasaran industri rekaman secara konvensional cuma laku menjual 4% dari total distribusi. "Nah, untuk menyiasati penyusutan penjualan konvensional, RBT kini jadi alternatif yang lebih menjanjikan."

Lokal Berjaya

Bicara konten lagu RBT yang laku di pasaran, kata Erik, kebanyakan masih seputar lagu lokal. Sementara lagu internasional dianggap kurang laku karena mekanisme kerjasama antara industri rekaman internasional dan operator telekomunikasi sulit dijalin.

"Mereka rewel," keluh Erik. Alasannya, kata dia, pasar RBT di Indonesia tidak dianggap potensial. "itu sebabnya mereka enggan bekerjasama dengan kita," demikian tandasnya.


Anda punya uneg-uneg dan pendapat tentang layanan Esia? Gabung yuk di detikINET Forum.
(rou/dwn)





Hide Ads