Namun di sisi lain, kata VP Public and Marketing Communication PT Telkom, Eddy Kurnia, struktur tarif baru ini justru akan membuat biaya komunikasi lintas operator jadi lebih murah.
"Sebagai contoh jenis layanan hubungan yang di-flat-kan yaitu hubungan off-net Flexi Classy dengan seluler non-lokal, yang semula Rp 400 hingga Rp 1.250 per 30 detik menjadi Rp 625 per 30 detik," jelas Eddy dalam keterangannya yang dikutip detikINET, Kamis (31/7/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eddy Kurnia menegaskan, kebijakan penetapan harga (pricing) layanan Flexi ini merujuk pada formula Peraturan Menteri NomorΒ 15/2008 tentang Tata Cara Penetapan Tarif Jasa Teleponi Dasar yang Disalurkan melalui Jaringan Tetap.
Kebijakan itu menetapkan tarif dasar Flexi berdasarkan lima jenis layanan, yaitu: hubungan antarsesama pengguna Flexi (on-net), hubungan antara Flexi dengan telepon rumah kabel (PSTN atau Public Switch Telephone Network) dan Fixed Wireless Access (FWA) non-Flexi, hubungan antara Flexi dengan layanan seluler (off-net mobile), serta hubungan pesan pendek (SMS).
Keputusan Telkom dalam memberlakukan tarif flat, kata Eddy, didasari empat pertimbangan, yakni tren pasar ke depan, struktur flat yang sederhana, semakin banyaknya operator yang juga memberlakukan tarif flat, serta posisi Telkom dalam
peta persaingan bisnis telekomunikasi.
"Dengan struktur tarif baru tersebut, kami yakin Flexi akan semakin atraktif bagi pelanggan, terutama karena saat ini layanan tersebut merupakan pemegang pangsa pasar terbesar dengan jumlah pelanggan mencapai sekitar 7,5 juta satuan sambungan," pungkas Eddy.
Mau curhat atau punya unek-unek seputar operator telekomunikasi di Indonesia? Keluarkan saja di detikINET Forum. (rou/ash)