Rumor yang beredar tentu tentang kesahihan akuisisi tersebut. Singapore Technologies Telemedia (STT), sang pemilik Indosat sebelum dijual ke Qtel, diisukan cuma 'main mata' saja dengan raksasa telekomunikasi asal timur tengah itu.
"Ibaratnya, cuma mindahin kantong kiri ke kantong kanan saja," demikian isu yang beredar. Antara STT dan Qtel memang memiliki kedekatan yang erat, terlebih sejak Qtel digandeng masuk STT ke Asia Mobile Holding (AMH), perusahaan yang dipakai STT untuk membawahi Indosat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adalah Guntur S Siboro, Direktur Marketing Indosat, yang lagi coba melucu. Dia bilang, alasan Qtel memilih Indosat tak lain karena tarif selulernya yang dinilai maknyus.
"Wah, operator ini (Indosat) bagus banget prospeknya. Tarifnya saja sejuta tiap nelpon," kata Guntur di sela press gathering Indosat di Bandung yang berakhir Senin ini (21/7/2008).
Yang dimaksud Guntur adalah skema tarif promosi Rp 0,0000000001 yang digunakan sebagai trik pemasaran layanan prabayar seluler Indosat. Lalu, bagaimana bisa dibilang sejuta?
"Orang Arab kan kalau baca tulisan selalu dari kanan," katanya sambil disambut gelak tawa para jurnalis yang ikut ngobrol dengan dosen pascasarjana di sejumlah kampus itu.
Kemudian, lelucon lainnya yang juga dilemparkan Guntur tentang akuisisi Indosat ialah soal penunjukan Rachmat Gobel oleh Qtel. Sang pemilik Panasonic Gobel itu katanya ditunjuk Qtel sebagai mitra lokal karena desakan pemerintah untuk menggandeng pelaku industri kelas nasional.
"Mungkin, pas Qtel cari kata nasional di internet, yang ketemu National Panasonic-nya Rachmat Gobel, kali. Jadi, dipilihlah dia," kata Guntur, yang awalnya kentara sekali ingin menghindari hujaman pertanyaan wartawan seputar akuisisi Indosat, sebelum akhirnya jadi malah melucu.
Selain jadi praktisi bisnis dan akademisi, mungkin Pak Guntur juga berminat coba profesi jadi pelawak?Β (rou/wsh)