Ketua Tetap Telematika Kadin Agoes Silaban mengatakan hal itu dikarenakan harga konten lokal yang lebih mahal namun kualitasnya belum begitu teruji. "Ya kayak telur dan ayam, industri nggak mau beli karena lebih mahal. Jadi perlu sinergi antara lokal dan asing." ujarnya di sela Rapat Koordinasi Nasional Telematika dan Media 2008 Kadin Indonesia di Hotel Ritz Carlton Jakarta, Senin (23/6/2008).
Inisiatif pemerintah yang mendesak Kadin untuk lebih memperhatikan konten lokal memang dinilai Agoes dapat menimbulkan multipalyer effect. Terlebih saat ini,penyerapan konten lokal masih terbilang kecil, yakni berkisar 5-25 persen sedangkan sisanya masih dikuasai asing.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tempat yang sama, Ketua Komite Telekomunikasi Kadin Anindya Bakrie menilai, regulasi telematika yang diterapkan pemerintah saat ini sudah cukup bagus.
Namun pemerintah disarankan masih harus memperbaiki dua sisi regulasi, yaitu terkait regulasi keselarasan pusat dan daerah serta regulasi soal revitalisasi industri. "Ini perlu dibahas lebih detail karena setiap tahunnya uang yang berputar di industri telematika ini bisa mencapai Rp 60 triliun," tukasnya.
Sebab, lanjut Anindya, selama regulasinya kondusif para pelaku industri tidak akan ragu untuk menginvestasikan uangnya. "Tapi kondisi sekarang cukup baik,karena disaat kebutuhan untuk investasi meningkat, pemerintah bisa menurunkan tarif telekomunikasi," ia menandaskan.
Mau ngobrol seputar industri teknologi informasi Indonesia? Berdiskusi saja di detikINET Forum.
(ash/amz)