Menanggapi hal tersebut, Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagio mengimbau agar operator jangan ngoyo berlomba-lomba menurunkan tarif. Pasalnya, penurunan tarif akan berdampak pada kualitas layanan baik data maupun suara.
Sejak tarif murah gencar dipromosikan, kualitas layanan justru makin buruk. Operator harusnya memikirkan bagaimana meningkatkan jaringannya. Belanja modal (capital expenditure/Capex) operator, menurut Agus, masih tinggi. Masih banyak daerah yang blank sehingga operator masih harus membangun banyak jaringan. Padahal untuk membangun jaringan dibutuhkan modal besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agus menilai tarif seluler di Indonesia saat ini sudah moderate. Menurutnya, penurunan tarif seharusnya dilakukan secara bertahap. "Jangan langsung turun 50%, harusnya bertahap misal 5% dulu. Nanti kalau jaringannya sudah banyak diturunkan lagi tarifnya," tegasnya.
Tarif seluler di Indonesia juga tidak bisa disamakan dengan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Pasalnya, pasar di sana sudah jenuh dan belanja modal mereka kecil sehingga tarif bisa murah. Di Indonesia, penurunan tarif sebaiknya sejalan dengan makin meluasnya jaringan yang dibangun operator sehingga capex makin kecil.
(dwn/dwn)