"Revenue (pendapatan-red) masih tetap bisa dipertahankan karena peluang bisnis di industri telekomunikasi masih sangat besar, karena teledensitas masih di bawah 40 persen. Lagipula, banyak pelanggan yang memiliki dua nomor telepon. Artinya masih besar peluangnya," kata Dirut Telkomsel, Kiskenda Suriahardja, di Kantor Telkomsel, Wisma Mulia, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (19/2/2008).
Pada awal Februari 2008, pemerintah telah menetapkan penurunan tarif interkoneksi yang berimplikasi pada tarif operator di sisi pelanggan. Tarif interkoneksi untuk layanan tetap turun 5-10 persen, sedangkan seluler 20-40 persen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tarif ritel seluler masih bisa turun karena belum frigid. Sebelum menyampaikan DPI kami juga sudah menurunkan harga lewat bermacam tarif promosi karena itu yang langsung dirasakan masyarakat," ujar Kiskenda.
Lebih lanjut, Kiskenda menjelaskan, dalam penetapan tarif ritel ada beberapa komponen biaya yang dibebankan pada pelanggan dan salah satunya adalah interkoneksi. Dengan penurunan interkoneksi, berarti tarif yang dikenakan pada pelanggan pasti turun
Namun, ia menegaskan, penurunan tersebut tidak serta-merta mengganggu revenue. Karena, dengan penurunan tarif akan berdampak pada peningkatan traffic. "Sehingga sebagai pengelola bisnis, kami justru berharap terjadi peningkatan revenue, apalagi Telkomsel sudah memiliki 50 juta pelanggan," ia menambahkan. (wsh/wsh)