Indonesia memperkuat ambisi menjadi salah satu hub konektivitas digital di kawasan Asia Pasifik. Pemerintah menyiapkan empat lokasi landing station kabel laut internasional sekaligus menata ratusan koridor kabel bawah laut di perairan Indonesia.
Direktur Jenderal Penataan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Kartika Listriana mengatakan Indonesia memiliki modal geografis yang sangat strategis untuk menjadi penghubung konektivitas digital regional maupun global.
"Indonesia memang harus siap ya, dan sudah siap. Karena kami ini kalau dari sisi penataan kabel laut, kita sudah ada dasar regulasinya," ujar Kartika saat ditemui di Bali Annual Telkom International Conference (BATIC) 2026, Nusa Dua, Bali, Rabu (26/8).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Kartika, pemerintah telah menyiapkan titik-titik strategis yang dapat dikembangkan sebagai hub maupun lokasi pendaratan kabel laut atau landing station. Untuk tahap yang direncanakan saat ini, empat landing station.
"Kalau untuk yang empat landing station itu, rencana ada di Jakarta, kemudian ada di NTT, kemudian di Manado, dan Jayapura," ungkapnya.
Kartika mengatakan penentuan lokasi mempertimbangkan efektivitas jalur konektivitas. Wilayah Indonesia timur, misalnya, berpotensi menjadi pintu koneksi menuju Australia karena jaraknya relatif lebih dekat.
"Di Papua, tentunya dia akan mendekati ke Australia. Itu juga tentunya mana efektifnya. Sekarang Australia juga punya beberapa titik, kita sesuaikan saja," jelasnya.
Meski demikian, lokasi tersebut masih dapat berkembang mengikuti kebutuhan industri dan dinamika pembangunan infrastruktur digital.
Kartika Listriana, Direktur Jenderal Penataan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Foto: Adi FR/detikINET |
217 Segmen Koridor Kabel Laut
Dalam presentasinya di BATIC 2026, Kartika mengungkap Indonesia telah menetapkan koridor alur kabel bawah laut nasional melalui Kepmen KP Nomor 14 Tahun 2021.
Koridor tersebut terdiri dari 217 segmen, 209 landing point, dan empat lokasi landing station Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) internasional yang masuk ke Indonesia. Penetapan koridor ditujukan untuk memberikan kepastian jalur dan ruang bagi investor maupun operator.
Posisi Indonesia juga dinilai strategis karena berada di jalur konektivitas digital Asia Pasifik. "Lebih dari 50 sistem kabel bawah laut internasional dan domestik berada di Indonesia, sementara lebih dari 99% trafik data internasional berjalan melalui kabel bawah laut," papar Kartika.
KKP menilai kepastian ruang laut menjadi semakin penting seiring pertumbuhan ekonomi digital dan rencana investasi kabel bawah laut baru. Kabel tersebut harus berbagi ruang dengan berbagai aktivitas lain, mulai dari perikanan, pelayaran, migas, pertambangan, konservasi hingga pariwisata.
Karena itu, penataan koridor dibutuhkan agar pembangunan kabel dapat dilakukan secara aman sekaligus mengurangi konflik pemanfaatan ruang laut. Ke depan, pemerintah juga berencana memperkaya penataan kabel laut dengan konsep Hub & Spoke.
Lebih lanjut Kartika menjelaskan bahwa hub nantinya dapat menjadi pusat konektivitas yang didukung data center dan terhubung ke sejumlah landing point. Pengembangan koridor juga perlu memperhitungkan jarak aman antarkabel serta kapasitas masing-masing koridor.
Ilustrasi kabel laut Foto: Ketrosden Triasmitra |
Pengembangan tersebut menjadi semakin relevan seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas untuk menopang ekonomi digital, cloud, data center, hingga kecerdasan buatan (AI).
Kartika mengatakan Indonesia juga terbuka terhadap keterlibatan berbagai perusahaan teknologi global. Pemerintah tidak membatasi kolaborasi pada perusahaan tertentu selama investasi tersebut mengikuti regulasi yang berlaku di Indonesia.
"Indonesia tidak mau khususkan. Yang penting mereka juga mengikuti ketentuan-ketentuan regulasi dari sisi digitalisasi, konektivitas yang sudah ditetapkan oleh pemerintah," ujarnya.
Menurut Kartika, koordinasi lintas pemerintah, badan usaha, dan masyarakat juga menjadi kunci untuk mempercepat pembangunan infrastruktur.
"Kita yakin, karena memang market-nya besar, dan lokasi kita itu strategis. Dan kita potensial juga dari sisi ruang. Sehingga kita harus yakin bahwa kita bisa," pungkasnya.



