Direktur Pemasaran Indosat, Guntur S. Siboro mengakui, StarOne selama ini bak katak dalam tempurung karena terus-menerus didera masalah kualitas jaringan akibat migrasi frekuensi. Sehingga, klaim dia, layanan yang diplot Indosat sebagai jagoannya soal akses telepon tetap nirkabel itu kurang diminati masyarakat, khususnya di Jabodetabek dan sekitarnya.
"Secara praktis, Esia memonopoli pasar karena di saat yang bersamaan StarOne dan Flexi masih disibukkan dengan migrasi frekuensi, sehingga tidak terjadi kompetisi. Namun dengan selesainya migrasi, kami optimis bisa lebih baik dari mereka [Esia dan Flexi]," ujarnya di sela peluncuran kembali StarOne di Kantor Pusat PT Indosat, Jakarta, Jumat (23/11/2007).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tidak mau menyebutkan target StarOne di 2008 nanti, takut pesaing kami keringetan dengernya," tukas Guntur berkelakar.
StarOne dalam edisi barunya ini menggunakan metode percakapan menit atau bulanan. Dalam program per menit, tarif yang ditawarkan antar sesama jaringan StarOne, baik lokal maupun SLJJ, yakni Rp 25 per menit atau Rp 750 per jam dengan tambahan menit berikutnya dihitung Rp 12,5 per menit.
Sedangkan untuk program bulanan, pelanggan ditawarkan tarif Rp 25 ribu per bulan untuk panggilan telepon sepuasnya ke sesama pelanggan StarOne baik lokal maupun SLJJ. Untuk memilih paket yang diinginkan pelanggan harus melalui proses registrasi melalui pesan pendek (SMS) dengan sisa pulsa lebih dari Rp 3.000. Untuk tetap menggunakan pilihan paket bulanan, maka nilai pulsa harus berada di angka Rp 25 ribu setiap bulannya.
Bagi pengguna pascabayar, akses internet dibanderol Rp 49 ribu per bulan untuk 350 MB dan Rp 99 ribu per bulan untuk 1 GB. Rencananya, Indosat juga akan membundel paket perdana StarOne dan produk seluler Indosat lainnya dengan produk ponsel CDMA dan GSM yang memiliki fungsi dual on. (rou/rou)