Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Altimo Masih Naksir Pasar Telekomunikasi Indonesia?

Altimo Masih Naksir Pasar Telekomunikasi Indonesia?


- detikInet

Jakarta - Investor telekomunikasi asal Rusia, Altimo, merilis hasil riset keduanya tentang perkembangan pasar telekomunikasi bergerak secara global. Dari hasil riset itu, Indonesia tetap disebut-sebut sebagai salah satu pasar investasi telekomunikasi yang paling menarik.Altimo sebelumnya memang sempat menyatakan ketertarikannya untuk berinvestasi di sektor telekomunikasi Indonesia. Yang menjadi target utama tentunya operator seluler berteknologi Global Satellite for Communication Mobile (GSM), seperti operator seluler lainnya di mancanegara yang telah lebih dulu diakuisisinya.Meski tak menutup kemungkinan, sulit rasanya bagi perusahaan Rusia yang memiliki aset total senilai US$ 30 miliar itu untuk menjejakkan kakinya di Tanah Air. Setelah disebut-sebut gagal mengambil alih kendali Indosat, Altimo kemudian dikabarkan bergerak mendekati Excelcomindo Pratama (XL). Namun, kembali lagi, isu itu akhirnya dimentahkan para petinggi terkait.Dalam keterangan pers yang diterima detikINET, Jumat (9/11/2007), Altimo merilis hasil riset keduanya yang berjudul Mobile Development Index, yang kemudian disebut sebagai Altimo Index. Riset tersebut bercerita tentang data makroekonomi industri telekomunikasi bergerak, seperti tingkat pertumbuhan rata-rata pendapatan per pelanggan (ARPU), margin pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA), tingkat pertumbuhan gross domestic product (GDP), yang dimulai sejak kuartal ketiga 2006 hingga kuartal kedua 2007.Nah, dari hasil riset yang dipesannya kepada pihak akademisi seperti Cambridge University dari Amerika Serikat, London Business School dari Inggris, serta New Economic School dari Moskow, Rusia, Altimo kembali membersitkan kemungkinan untuk berinvestasi di sektor telekomunikasi Indonesia.Hasil riset itu mengatakan bahwa negara-negara di ASEAN akan menjadi kunci utama untuk berinvestasi sepanjang periode 2008-2012. Menguatnya sektor ekonomi, pertumbuhan tingkat belanja di industri telekomunikasi bergerak, serta melonjaknya penetrasi pelanggan, menjadi alasan utama."Dalam jangka pendek, Filipina, Indonesia, dan Vietnam adalah tiga teratas untuk pasar investasi telekomunikasi bergerak," sebut siaran pers. "Sedangkan India, menunjukkan indikasi penurunan signifikan untuk berinvestasi setelah iklim kompetisi dan pertumbuhan telekomunikasinya cenderung stabil."Disebutkan pula, ARPU tiap enam bulannya secara global menurun 2%. Dan tren penurunan itu diperkirakan akan berlanjut pada 2008-2009. "Perkembangan teknologi dan kompetisi akan kembali mendorong penurunan tarif hingga hadirnya layanan nilai tambah (VAS) baru yang menarik."Penurunan ARPU secara dinamis itu juga, katanya, mengakibatkan stagnannya margin EBITDA global selama 4-5 tahun belakangan ini dengan angka 35%. Sementara, Indonesia memiliki tingkat margin EBITDA yang sangat tinggi dengan kisaran di atas 60%.Kemudian, hasil riset itu juga menyebutkan, penetrasi seluler secara global saat ini masih rendah dengan kisaran teledensitas 45%. Namun, penetrasi seluler diprediksi masih akan terus tumbuh paling tidak hingga 2010-2011."Kami senang bisa merilis hasil riset kedua tentang Altimo Index yang mungkin berguna untuk mengukur tingkat keatraktifan pasar dalam hal investasi. Strategi Altimo sendiri dalam berinvestasi dibangun dengan komitmen kuat untuk mengembangkan pasar Asia seperti Vietnam dan Indonesia. Hasil riset ini semakin menguatkan niat kami," ucap Vice President Altimo, Kirill Babaev, di penghujung siaran pers tersebut. (rou/ash)





Hide Ads