Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Kolom Telematika
Potensi Seluler dan Wacana M-Indonesia
Kolom Telematika

Potensi Seluler dan Wacana M-Indonesia


- detikInet

Jakarta - Meski saat ini tengah dilakukan penataan beberapa aturan yang terkait dengan industri telekomunikasi, bisnis telekomunikasi nasional nampaknya masih akan didominasi industri telepon bergerak. Hal itu berdasar tren sektor ini yang meningkat dari tahun ke tahun secara signifikan. Hingga saat ini, setidaknya tercatat bahwa pengguna telepon seluler (ponsel) telah mencapai angka 80 juta pengguna. Angka tersebut cukup fantastis apalagi jika melihat perkembangan teledensitas telepon tetap kita maupun bisnis telepon bergerak itu sendiri yang hanya sekitar setengah juta orang pada 1996. Sehingga jadi hal wajar jika diprediksi, sebelum 2010, angka psikologis 100 juta pengguna akan terlampaui. Melihat daya beli seperti itu, sesungguhnya angka penetrasi saat ini yang berkisar pada angka 37%, jika dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN, semisal Singapura, Malaysia maupun Filipina, angka penetrasi tersebut masih dapat ditingkatkan lagi. Karenanya tak mengherankan, jika investor dari banyak negara asing begitu berminat untuk ekspansi di sini mengingat pasar mereka yang nampaknya jenuh, sementara di tanah air masih bisa ditingkatkan lebih banyak pengguna.Perkembangan tersebut, salah satunya dipicu dengan perubahan gaya hidup masyarakat yang going mobile, ingin dapat dihubungi dan menghubungi di manapun berada, sehingga butuh untuk telepon seluler. Bukan cuma di kota, orang tua dan hanya pegawai kantoran, melainkan juga hingga pelosok kampung, anak-anak, serta tukang perahu, tukang cendol, bahkan tukang pijat merasa perlu memilikinya.Β Β Β Β Pesatnya perkembangan bisnis ini, selain memanjakan pengguna dengan adanya iklim kompetisi yang kian ketat sehingga pelanggan bisa memilih operator yang harganya, layanan maupun jaringan sesuai dengan pilihannya, kemudian bisnis ini juga menggerakkan roda perekonomian masyarakat--menjamurnya toko yang menjual kartu perdana, isi ulang maupun ponsel dan aksesorisnya di mana-mana, berderaknya kembali pembangunan infrastruktur dari macrocell hingga picocell, dari BTS hingga MSC, termasuk industri content--dan menyerap tenaga kerja, hal lain yang tidak bisa diabaikan adalah soal penetrasi.Dalam catatan Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi, penetrasi seluler yang saat ini sudah masuk hingga kecamatan-kecamatan di Nusantara, juga telah berimbas pada berkurangnya desa yang belum menikmati telepon dasar dari angka 43.000 desa menjadi 38.471. Sehingga, diharapkan seluruh desa, dengan Program Universal Services Obligation (USO), akan sudah menjadi Desa Berdering pada 2009. Dengan potensi wilayanan layanan yang luas itu pulalah, banyak operator seluler saat ini tertarik bertarung dalam tender USO.Β Β Β Β  M-IndonesiaDengan pengguna internet yang jauh di bawah pengguna ponsel, dan penetrasi telepon tetap kabel yang tidak beranjak signifikan, telepon bergerak berpotensi mengubah layanan yang selama ini lebih dikenal dengan layanan elektronik semisal e-government, e-business, e-health maupun e-learning menjadi m-government, m-business, m-health maupun m-learning, seperti yang dilakukan Taiwan.Dengan M-Taiwan, layanan teknologi informasi dan komunikasi akses broadband nirkabel kelas dunia untuk pengguna internet di sana makin kuat. Selain itu, infrastruktur yang luas juga mengurangi kesenjangan digital, terbangunnya lingkungan industri mobile yang kompetitif serta terciptanya industri perangkat pendukung dan layanan mobile data. Dengan program M-Taiwan pemerintah diharapkan dapat mendukung sekitar 8 juta pengguna broadband nirkabel pada tahun 2008.Potensi yang sama juga ada pada layanan telepon bergerak di sini. Dengan adopsi teknologi 3G, HSDPA dan teknologi terkini lainnya, termasuk BWA, wilayah penetrasi broadband juga akan makin luas. Namun, hal itu perlu juga diikuti dengan aplikasi kreatif seperti hiburan, pendidikan ataupun hal-hal yang terkait dengan jual beli maupun layanan yang terkait dengan pemerintahan. Tentu perlu kerja sama antarpemangku kepentingan (stakeholders) dalam pengembangan sumberdaya terkait pengembangan konten dan layanan untuk telepon bergerak.Inisitaif M-Indonesia, tentunya perlu didahului dengan pernyiapan regulasi dan kebijakan kerangka yang menyatakan bahwa telepon bergerak akan menjadi fokus masa depan bagi Indonesia dan akan digunakan untuk mengantarkan beragam layanan yang nantinya bisa lebih dirincikan dalam program M-Indonesia. Tidak perlu waktu lama, Program M-Taiwan sendiri cukup singkat untuk segera direalisasi, hanya enam tahun. Pemerintah dan regulator perlu juga menyiapkan standardisasi aplikasi teknologi serta membuka spektrum frekuensi yang sesuai. Semua langkah itu merupakah langkah awal untuk merealisasikan potensi dari dunia telepin bergerak. Dengan pemanfaatan dan strategi yang lebih jelas dalam M-Indonesia nantinya, diharapkan hal itu dapat menstimulasi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Cara yang mungkin nampaknya seperti fiksi ilmiah hingga sekarang. Heru Sutadi, pengamat telematika. Email: herusutadi@hotmail.com (rou/rou)





Hide Ads