Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
ATSI Respons Menkomdigi, Ungkap Tarif Internet Selular Sudah Murah

ATSI Respons Menkomdigi, Ungkap Tarif Internet Selular Sudah Murah


Agus Tri Haryanto - detikInet

Merza Fachys
Sekjen ATSI Merza Fachys (Foto: Agus Tri Haryanto/detikINET)
Jakarta -

Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) mengungkapkan tarif internet di Indonesia dinilai sudah terjangkau dan bersaing. Isu mahal atau murahnya internet perlu dilihat lebih spesifik dan tidak bisa digeneralisasi.

Hal itu disampaikan Sekjen ATSI Merza Fachys. Menurutnya, perlu membedakan antara layanan internet seluler dan internet fixed line atau internet rumah. Dari sisi seluler, Indonesia justru termasuk salah satu negara dengan tarif yang sangat kompetitif.

"Kalau kita bicara seluler, saya yakin harganya sudah sangat murah. Coba bandingkan dengan negara-negara tetangga, per gigabyte berapa," ujar Merza ditemui usai acara forum Indonesia Digital Outlook 2026, Jakarta, Kamis (29/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Penyesuaian tarif internet rumah, kata Merza, masih dilakukan. Namun untuk tarif internet seluler, harganya yang dipatok para operator seluler sudah relatif rendah saat ini.

Tak hanya soal harga, Merza juga menyoroti perdebatan soal kecepatan internet nasional yang kerap dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara. Menurutnya, perbandingan tersebut kerap tidak adil karena kondisi geografis Indonesia yang sangat beragam.

"Indonesia ini tidak bisa dibandingkan dengan negara yang isinya cuma kota. Kalau Jakarta saja yang dinilai, saya yakin tidak kalah dengan Singapura. Tapi ketika ditarik rata-rata nasional, tentu hasilnya berbeda," jelasnya.

Sebagai solusi, ATSI mengusulkan peningkatan kualitas jaringan dilakukan secara bertahap dan kontekstual. Wilayah luar kota dan pedesaan didorong untuk diperkuat dengan jaringan 4G, sementara kawasan perkotaan ditingkatkan melalui penggelaran 5G.

"Tidak semuanya harus 5G. Di daerah rural kita perbaiki 4G-nya, di kota kita perbaiki dengan 5G," kata Merza.

Untuk meningkatkan kualitas 4G di luar kota, Merza menyebut ada dua kebutuhan utama, yakni penambahan spektrum dan penguatan backbone jaringan ke daerah-daerah tersebut. Sementara di kota-kota besar, fokusnya lebih pada spektrum karena infrastruktur fiber optik relatif sudah tersedia.

Namun, penggelaran fiber optik ke wilayah luar kota bukan perkara mudah. Selain membutuhkan investasi besar, proses deployment juga dihadapkan pada tantangan teknis dan birokrasi.

"Bukan sekadar investasinya yang mahal, tapi juga pekerjaannya besar, jaraknya panjang, dan perizinannya," ungkap Merza.

ATSI, lanjutnya, bahkan baru-baru ini berdiskusi dengan Kementerian Dalam Negeri terkait perizinan lintas daerah, mengingat setiap kota dan kabupaten memiliki aturan operasional masing-masing. Tantangan makin kompleks ketika jaringan harus dibangun lintas pulau.

"Antar pulau pakai kabel laut. Perizinan membangun kabel laut juga masih cukup panjang. Makanya semua ini butuh waktu," tutupnya.




(agt/fay)







Hide Ads