Kolom Telematika
Teori Konspirasi Nasi Lemak, Susu Onta, dan Lumpur Lapindo
- detikInet
Jakarta -
Tender sambungan langsung internasional (SLI) memasuki babak pamungkas. Jika sesuai rencana, pemenang tender akan ditetapkan hari ini Selasa (11/9/2007), dan baru kemudian diumumkan kepada publik esok harinya. Di dalam benak masyarakat awam seperti saya, siapapun pemenangnya tidaklah menjadi soal. Sungguh, apa peduli kita. Toh, belum tentu juga dengan bertambahnya pemain di sektor tersebut akan serta-merta berdampak langsung pada konsumen. Tidak dalam waktu dekat rasanya.Melihat profil singkat dari para peserta, terus terang memang agak meragukan. Ketiganya, baik itu PT Excelcomindo Pratama (XL), PT Natrindo Telepon Seluler (NTS), maupun PT Bakrie Telecom (Btel), tak ada yang tak memiliki cela.XL yang sejak jauh hari menyatakan keinginannya mendapatkan lisensi SLI, terganjal isu kepemilikan silang di tubuh perusahaan sang induk. Khazanah Malaysia selaku pemegang saham terbesar XL, dikait- kaitkan dengan Temasek Singapura yang juga memiliki porsi saham mayoritas di pemegang lisensi SLI lainnya, PT Indosat. Isu itu pun kemudian ditampik keras.Aroma teh tarik dan nasi lemak sangat kental di perebutan lisensi ini. Dari dua peserta tender, baik XL dan NTS, masing-masing ditunggangi oleh perusahaan raksasa dari Malaysia.Memang, NTS kini tak sepenuhnya dikuasai Malaysia. Maxis Communication Berhad yang sebelumnya sempat mutlak menguasai NTS, menggandeng raksasa telekomunikasi dari Arab, Saudi Telecom Company (STC). Jelas terlihat, Maxis yang sudah kehabisan tenaga menghadapi permasalahan NTS, butuh tunggangan dan nutrisi tambahan dari "sang Onta" yang susunya bisa diperah.Teori KonspirasiMalaysia, dalam hal perebutan lisensi ini, tak bisa dipungkiri sangat kental mendominasi. XL dan NTS pun secara tidak langsung bisa dibilang "bersaudara" bila dilihat dari hubungan dekat antara Lippo dan Khazanah.Bisa jadi juga, kalau kita pakai teori konspirasi gila, keinginan Malaysia dalam mendapatkan lisensi SLI ini ialah demi menyaingi hegemoni Singapura yang telah mendarah daging sebagai financial hub terbesar di Asia.Baik Singapura maupun Malaysia, sangat agresif dalam ekspansinya di sektor telekomunikasi dan perbankan. Selain membeli Indosat, Temasek juga masuk ke bank-bank besar seperti BII, Danamon, NISP, dan Buana. Tak beda dengan Malaysia, Khazanah pun memiliki saham di beberapa bank seperti Lippo dan Niaga. Lalu, apa artinya semua ini?Perdagangan internasional melalui telekomunikasi berbasis internet rasanya bisa menjadi jawaban. Internet mampu mendobrak meja birokrasi permintaan dan penawaran di mana alat pembayarannya bisa melalui mekanisme kliring antarrekening. Mungkin itu sebabnya, selain mengendalikan perbankan, Singapura dan Malaysia juga sangat berkeinginan menguasai sektor telekomunikasi.Untuk bisa menjadi institusi financial hub, selain diperlukannya izin sebagai penyelenggara jasa keuangan, juga harus memiliki izin sebagai penyedia jasa jaringan internet. Temasek Singapura telah memiliki hal tersebut. Kini giliran Malaysia yang berkesempatan melakukan hal tersebut.Pemenang lisensi SLI kali ini, secara otomatis akan mendapatkan izin penyelenggara jasa jaringan tetap tertutup (jartup). Meski untuk mendapatkannya diperlukan basa-basi pengajuan resmi dan kemudian diproses. Mudah saja dan pasti dapat karena sejatinya, lisensi keduanya sudah menyatu (embedded).Semburan PanasSelain XL dan NTS, Btel ternyata juga punya problem yang tak kalah pelik. Mengingat nama Bakrie, semua orang di Indonesia pasti tak akan lupa dengan tragedi semburan dahsyat lumpur panas PT Lapindo Brantas Inc, anak usaha milik Bakrie & Brothers, yang juga menginduki Btel.Dalam usahanya memperebutkan lisensi SLI, Btel pun tidak bisa dibilang seratus persen aman dari gangguan. Isu kepemilikan saham asing juga menggerogoti. Rumor yang beredar menyebutkan, perusahaan CMA Pte. Ltd. yang mendanai Btel merupakan perusahaan asli milik Singapura. Tak jelas apakah CMA juga merupakan "kaki-tangan" Temasek.Isu itu pun ditampik keras oleh petinggi Btel. CMA diklaim sebagai perusahaan milik induk Btel, Bakrie & Brothers, yang mengurusi soal keuangan perusahaan di kancah internasional. Btel pun mengklaim sebagai satu-satunya perusahaan yang murni berbendera Merah Putih dalam perebutan SLI ini dan akan berkomitmen membangun sendiri sentral gerbang dan saluran serat optik internasional yang diminta pemerintah sebagai persyaratan.Sekali lagi pemerintah dan regulator mendapatkan tantangan berat. Keseriusan mereka dalam memberikan yang terbaik bagi masyarakat benar-benar diuji. Langkah awal dengan menandatangani pakta integritas demi menjaga independensi dari godaan peserta tender sepatutnya mendapatkan acungan jempol sebagai proses menuju good corporate governance. Namun tak hanya itu, kita akan tetap menunggu pembuktian selanjutnya.Sebagai masyarakat awam, mungkin tak penting lagi siapa yang jadi pemenang SLI, yang penting bisa menguntungkan pengguna telekomunikasi dan membawa dampak positif bagi ekonomi dan citra Indonesia di mata dunia.*) Penulis adalah wartawan detikINET dan dapat dihubungi melalui e-mail rourry[at]detikinet.com. Tulisan ini adalah opini pribadi dan tidak mencerminkan pendapat institusi tempat penulis bekerja.
(dbu/dbu)