Hanya Tersedia 30 Ribu Nomor Esia dan Wifone di Medan
- detikInet
Jakarta -
PT Bakrie Telecom Tbk membatasi pemasaran dua produk telepon tetap tanpa kabel miliknya, Esia dan Wifone, di Medan. Untuk tahap awal, kota pertama di Sumatera yang mendapatkan layanan tersebut hanya kebagian stok 30 ribu nomor perdana saja.Direktur Layanan Korporasi Rakhmat Junaidi menjelaskan, strategi penjualan itu sengaja ditempuh demi menjaga tingkat kualitas layanan telekomunikasi yang bukan saja terjangkau tapi juga handal."Kami tidak ingin minat yang begitu besar dari masyarakat di wilayah baru Esia dan Wifone, termasuk Medan menjadi kecewa karena persoalan kualitas jaringan. Untuk itu dengan penjualan terbatas tersebut kami ingin melihat kemampuan jaringan dalam menyalurkan lalu lintas percakapan telepon dan SMS," ujarnya dalam penjelasan tertulis yang diterima detikINET, Jumat (7/9/2007).Bersamaan dengan beroperasinya Esia dan Wifone di Medan, layanan kedua produk itu juga mulai hadir di Yogyakarta. Dengan demikian telah enam kota nasional secara berturut-turut dilakukan aktivitas penjualan secara terbatas sebagai tanda dimulainya layanan tersebut di kota-kota nasional di luar Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Sebelumnya Esia dan Wifone telah hadir secara resmi di Surabaya, Malang, Semarang dan Solo.TargetAgar masyarakat dapat mencoba kualitas layanan Esia dan Wifone sekaligus memberikan masukan terhadap kemampuan jaringan, maka Bakrie Telecom akan membebaskan percakapan telepon sesama pelanggan Esia di dalam kota yang sama. Harga perkenalan ini akan diperkenalkan hingga masa promosi ini berakhir pada 30 November 2007.Melalui pengembangan jaringan secara nasional, Bakrie berupaya mencapai target pertumbuhan pelanggan yang ditetapkan sebesar 3,6 juta pelanggan di tahun 2007. Akhir 2006 lalu, jumlah pelanggan Bakrie yang tercatat 1,5 juta. Kemudian meningkat 1,799 juta pelanggan pada akhir kuartal pertama 2007. Selanjutnya bertambah menjadi 2,246 juta pelanggan di akhir Juni 2007Untuk menunjang upaya pembukaan jaringan secara nasional di 2007 ini, perseroan menganggarkan US$ 220 juta atau sekitar Rp 2 triliun sebagai belanja modal (capital expenditur/capex). Sumber dana tersebut disediakan melalui skema vendor financing, pinjaman perbankan dan penerbitan obligasi.
(rou/dbu)