Konferensi GSM Asia Pasifik
BTS Sedot 70% Belanja Modal, Eh Pendapatan Anjlok 20%
- detikInet
Nusa Dua -
Para operator seluler GSM di Asia Pasific tengah memutar otak agar para pelanggannya tetap loyal dan tak pelit menghabiskan uang belanja pulsa.Pasalnya, investasi yang dikeluarkan untuk membangun infrastruktur jaringan tidaklah sedikit. Sementara di sisi lain, pendapatan rata-rata dari tiap pelanggan (ARPU) terus menurun tiap tahunnya."Dalam year on year, ARPU operator turun sekitar 20%," ungkap Direktur Commerce PT Excelcomindo Pratama (XL), Joy Wahyudi, kepada wartawan di sela acara GSM Forum Asia Pasifik ke-27 di Hotel Westin, Nusa Dua - Bali, Kamis (6/9/2007).Oleh sebab itu, lanjutnya, perlu dicari solusi agar ARPU tetap stabil namun pelanggan masih tetap diuntungkan. Penurunan tarif layanan pun diharapkan menjadi jawaban. "Kalau penggunaan bertambah gara-gara tarif lebih murah, maka ARPU yang tadinya terus turun akan meningkat lagi," jelasnya.Wakil Direktur GSM Asia Pasific, Kukuh Saworo, menambahkan, seluruh operator memerlukan biaya yang besar setiap tahunnya untuk memperluas cakupan jaringan. Sementara di sisi lain, tarif layanan harus turun.Menurutnya, agar tarif seluler terus turun, maka beban biaya infrastruktur jaringan operator tersebut perlu ditekan sedemikian rupa. Baik dari segi perangkat infrastruktur jaringan radio, tapi juga dari sisi pembangunan sipilnya.Untuk perangkat jaringan radio, kata Kukuh, penurunan tersebut sudah terjadi, di mana investasi untuk jaringan GSM per subscriber kini telah turun menjadi US$ 18 dari tadinya yang mencapai US$ 60."Porsi kendala yang terbesar bukan lagi dari biaya infrastruktur perangkat, tapi dari sisi civil, mechanical dan electricity. Seperti untuk pembangunan menara BTS," ujarnya.Dari total belanja modal (capex) yang dialokasikan, lanjut dia, sekitar 70% di antaranya kini dihabiskan untuk mengakuisisi area dan pembangunan menara BTS, serta biaya pengoperasiannya. "Di mana harga bahan baku materialnya, seperti besi, listrik dan tanah terus naik," tukasnya."Padahal, sepuluh tahun yang lalu, biaya yang dikeluarkan untuk perangkat radio seluler lebih mahal ketimbang biaya sipilnya. Sekarang sudah kebalikannya. Hal itu yang sekarang harus dicari jalan keluarnya," pungkas Kukuh.Keterangan foto:- Teknologi IP Video Phone turut diusung XL pada acara konferensi GSM Asia Pasifik- Meski lelah, liason officer XL tetap bersedia berpose untuk detikINET(Liputan dan laporan ini terselenggara atas dukungan dan undangan XL)
(rou/dbu)