Kolom Telematika
SMS, Dicintai Sekaligus Dibenci
- detikInet
Jakarta -
(Tulisan 1 dari 2 rangkaian)Apa fitur ponsel, selain voice, yang paling terfavorit? Jawaban, pasti, SMS. Short Message Service ini memang layak menyandang predikat terfavorit. Trafik SMS tumbuh pesat seiring dengan pertumbuhan penetrasi pelanggan telekomunikasi selular di Indonesia. Dimana pengguna ponsel bukan lagi masyarakat kalangan atas, namun sudah menjangkau lapisan masyarakat bawah. Bahkan tukang ojek,dan tukang sayur pun sudah menjadikan ponsel sebagai pelengkap kegiatannya. Merekalah sang heavy users SMS. ATSI (Asosiasi Telekomunikasi Selular Indonesia) mencatat kontribusi SMS bagi pendapatan operator berkisar 20% hingga 30%. Model skema pendapatan SKA (sender keep all) memungkinkan operator mendapat tambahan pendapatan dari layanan ini tanpa menghitung biaya terminating charge untuk interkoneksi. Skema SKA menggambarkan seluruh pendapatan yang diterima oleh si pengirim pesan adalah sepenuhnya milik pengirim pesan dan tidak dibagikan ke penerima pesan.SMS memang sudah menjadi generator pendapatan ke-2 bagi operator, setelah suara, yang potensi pengembangannya masih sangat besar. Penelitian dari Portio Research yang berjudul Mobile Messaging Futures turut memperkuat potensi SMS. Pada 2006 SMS telah menghasilkan USD47,5 miliar atau sekitar Rp430 triliun di seluruh dunia. Selain itu, layanan ini diprediksi akan mencapai angka USD52,5 miliar, atau sekitar Rp475 triliun pada 2007. Portio Research juga meramalkan, SMS yang dikirimkan pada tahun 2012 bakal mencapai 3,7 triliun pesan. Jika angka itu terbukti, maka pendapatan dari SMS akan menjadi USD67 miliar atau sekitar Rp607 triliun. Bagi operator telekomunikasi di Indonesia, layanan pesan singkat ini telah menjadi killer application sekaligus salah satu revenue generator. Sementara bagi pengguna, jelas, SMS pun kini telah menjadi bagian dari hidupnya. Tidak cuma karena fungsinya, tapi juga kecenderungan sebagian masyarakat kita yang suka dijanjikan hadiah, sehingga banyak yang kecanduan SMS berhadiah bak penjudi. Fitur SMS ini juga telah melahirkan usaha baru yaitu Content Provider (CP), yang saat ini sudah ada sekitar 300-an perusahaan.Makanya tidaklah heran bila operator membangun berbagai upaya agar penggunaan SMS semakin tinggi. Berbagai program promosi yang ditawarkan operator selalu menyertakan komponen SMS sebagai salah satu gimik yang menggiurkan. Kini harga SMS yang ditetapkan pun beragam tiap operator, mulai dari Rp45 per SMS hingga Rp 350 per SMS. Tapi sayangnya harga murah untuk berkirim SMS saat ini, baru sebatas antar sesama operator saja, untuk lintas operator ya masih mahal. Apalagi yang namanya SMS premium yang dikirimkan melalui CP, dari Rp 500 sampai Rp 2.000.Pemahaman KonsumenBegitu menggiurkannya bisnis SMS ini rupanya tidak dibarengi dengan pemahaman konsumen tentang berbagai hal menyangkut SMS. Makanya tidak mengherankan bila terjadi tindak kriminal penipuan menggunakan media SMS. Pelanggan seluler mendapat SMS yang isinya menjajikan hadiah, lalu penerima hadiah diminta terlebih dulu, mentransfer sejumlah uang untuk pajak undian, ataupun untuk memperlancar proses pengiriman hadiah. Modus sederhana seperti ini pun masih sering memakan korban. Padahal bila masyarakat paham, hal seperti ini tak perlu terjadi. Penerima SMS tinggal mencek siapa pengirimnya, apakah operator atau perusahaan yang menjaikan hadiah? Kalau operator, pastikan bahwa sender akan tertulis shot code operatornya. Bila disebut nama perusahaan yang memberi hadiah, maka bisa dicek ke perusahaan bersangkutan, benarkah memberi hadiah untuk yang bersangkutan? Atau yang paling gampang adalah berkaca diri. Pernahkan kita mengikuti suatu lomba yang menjajikan hadiah sesuai dengan isi SMS. Jika, tidak pernah, bisa dipastikan itu SMS penipuan.bersambung...Keterangan:- Penulis, Ventura Elisawati, adalah General Manager Integrated Marketing Service, XL Business Solutions. Dapat dihubungi melalui e-mail akoe[at]vlisa.com atau melalui blog-nya di http://www.vlisa.com.- Tulisan sebelumnya Internet Sehat? Why Not?
(dbu/dbu)