Kolom Telematika
Saatnya (Kembali) Jadi 'Macan' dengan TIK
- detikInet
Jakarta -
Selain persoalan mengenai 'penemuan' lagu Indonesia Raya tiga stanza yang disebut-sebut merupakan versi asli lagu kebangsaan kita, menjelang detik-detik peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus ini, merupakan saat yang penting juga untuk melakukan introspeksi mengenai apa yang sudah dilakukan terkait dengan pengembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di Tanah Air. Terutama sekali, bagaimana kita menyikapi hari depan, apakah hanya akan seperti sekarang, sebagai pembeli dan penikmat teknologi saja, atau ingin lebih dari itu.Apalagi jika melihat pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang meyakini bahwa pada tahun 2030, nasib Indonesia akan berubah. Indonesia akan menjadi satu dari lima negara maju di dunia dengan pendapatan per kapita tiap penduduk akan sebesar 18 ribu dolar AS. Dan perusahaan-perusahaan Indonesia akan diperhitungkan sebagai perusahaan besar tingkat dunia. Cita-cita tersebut memang bukan suatu hal yang mustahil diraih mengingat lembaga keuangan dan konsultasi dunia juga memberikan prediksi hampir sama, bahkan disebut-sebut akan menjadi satu dari tujuh besar dunia sebelum 2015. Namun, apakah kita hanya akan terpaku dan bergembira mendengar ramalan surga seperti itu? Tentu tidak. Semua sektor harus merusaha keras untuk menjadikan Indonesia menjadi lebih baik dan maju. Termasuk sektor TIK.Kembali Jadi 'Macan'TIK begitu penting dalam masyarakat modern dewasa ini. Seperti dikatakan pakar TIK dari Amerika Serikat, Don Tapscott, dalam bukunya "The Digital Economy: Promise and Peril in the Age of Networked Intelligence" (1995:43), perkembangan ekonomi dunia sedang berubah dari industri yang berbasis pada baja, kendaraan dan jalan raya ke arah ekonomi baru yang dibentuk oleh silikon, komputer dan jaringan.Untuk mendukung kemajuan TIK, ada dua faktor pendukung: infrastruktur dan sumber daya manusia. Dalam hal infrastruktur, yang perlu mendapat perhatian adalah mengenai akses dan biayanya. Dalam hal akses, perlu diperluas jangkauan telekomunikasi dasar. Sebab untuk kawasan ASEAN saja, penetrasi telekomunikasi dasar termasuk yang terendah. Untuk pemasyarakatan akses, maka biaya akses tersebut juga harus dipermurah. Sebab jika tidak, maka yang bisa memanfaatkan layanan TIK hanyalah yang dapat membayar mahal biaya akses tersebut.Sumber daya manusia (SDM) baik sebagai pengembang, pengelola maupun pengguna juga merupakan faktor yang turut menentukan bahkan menjadi kunci keberhasilan pelaksanakan dan pengembangan TIK. Untuk itu, perlu upaya peningkatan kapasitas SDM melalui jalur pendidikan formal dan non-formal, maupun pengembangan standardisasi kompetensi yang dibutuhkan dalam pengembangan dan implementasi TIK.Dengan infrastruktur dan SDM memadai, dana dan fasilitas riset dan pengembangan yang menunjang, serta adanya komitmen yang kuat dari seluruh stakeholder di bawah koordinasi Presiden untuk menjadikan Indonesia sebagai produsen dan bukan hanya konsumen teknologi, diharapkan bukan sekadar isapan jempol belaka. Sebab meski masih dirundung krisis berkepanjangan, julukan 'Macan' Asia pun pernah mampir ke negara ini. Sekarang saatnya kebanggan itu kita raih bersama, namun bukan menjadi 'macan' media, dengan berita-berita yang memilukan dari negeri ini, bukan pula menjadi 'macan' ompong yang menggambarkan ketidakberdayaan kita sebagai bangsa. Termasuk, bukan sekadar puas saja karena telah memiliki Trio Macan.Penulis bisa dihubungi melalui email: herusutadi@hotmail.com
(rou/rou)