Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
'Mutu Tak Selalu Identik dengan Harga Mahal'

'Mutu Tak Selalu Identik dengan Harga Mahal'


- detikInet

Jakarta - Ada banyak cara untuk meningkatkan mutu layanan telekomunikasi, antara lain, teknologi baru, cara berbisnis dan model bisnis yang berbeda, serta fokus dan segmentasi yang jelas.Wakil Direktur Utama PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), Erik Meijer, mengutarakan hal tersebut dalam diskusi terbatas bertajuk 'Kualitas Layanan atau Tarif Murah?' di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Selasa (24/7/2007). "Produk bermutu itu tidak selalu identik dengan harga mahal," ujarnya mantap.Erik mengklaim, teknologi berbasis CDMA (Code Division Multiple Access) yang diusung BTEL dapat menghemat jumlah kebutuhan infrastruktur Base Transceiver Station (BTS) hingga 70% dibanding teknologi GSM (Global Satellite for Mobile communication) untuk menghasilkan jangkauan dan kapasitas yang sama."CDMA itu 35% lebih efisien dalam penggunaan spektrum frekuensi. Apalagi Bakrie Telecom mengantungi lisensi FWA (fixed wireless access) yang menjadikan utilisasi aset jaringan lebih optimal, serta efisiensi interkoneksi dan biaya spektrum," jelasnya.Erik memaparkan, efisiensi juga tercermin dari bisnis model yang dijalankan BTEL mengingat posisinya sebagai operator dengan anggaran terbatas. "Karena itu kami sejak lahir dibiasakan bekerja efisien dan hemat. Belum lagi, posisi sebagai perusahaan terbuka yang mempunyai tanggung jawab kepada seluruh investor untuk menjalankan bisnis yang sehat."Menurut Erik, BTEL tidak ikut-ikutan dengan berbagai tren bisnis seperti melempar jutaan kartu perdana yang berakhir cuma sebagai kartu panggil (calling card), membayar sangat mahal untuk lisensi tertentu, menjual fisik dengan nilai yang lebih rendah dibandingkan biaya produksi dan distribusi voucher itu sendiri, serta membangun infrastruktur sendiri tanpa mau berbagi dengan operator lain."Kami tidak ingin menangguk keuntungan yang tinggi dari pelanggan. Persentase profit margin sekitar 35% sudah cukup bagi kami. Beda dengan (operator) yang lain, yang bermain di angka (margin) 50%-70%," selorohnya.Meskipun demikian, Erik mengklaim, BTEL masih mampu memberikan layanan berkualitas dengan tarif murah seperti waktu bicara paling lama Rp 1000 per jam, isi ulang Rp 1000, serta akses internet kecepatan tinggi Rp 100 per menit. "Dari riset yang dilakukan TNS pada Mei 2007 lalu, Esia terbukti menjadi produk dengan harga yang paling terjangkau," ujarnya.Erik yakin, strategi yang dijalankan BTEL tidak merugikan pelanggannya. Hal tersebut, lanjut dia, karena dari sisi infrastruktur network availibility BTEL mencapai 99,991%, tingkat drop call 1%, dan access failure 1,2%. "Angka-angka tersebut hampir mendekati standard world class operator," klaim dia.Berkaitan dengan langkah BTEL untuk tetap menghadirkan layanan berkualitas dengan harga terjangkau, Erik mengatakan, beberapa hal yang dibutuhkan antara lain, spektrum frekuensi yang cukup, biaya frekuensi dan izin yang wajar, interkoneksi berkualitas tinggi, perlindungan dari kompetisi tidak sehat, kerjasama dengan operator lain untuk menghemat biaya, serta dukungan dari pemerintah daerah."Target kami tahun ini meraih 3,6 juta pelanggan, asalkan kebutuhan-kebutuhan yang saya paparkan tadi terpenuhi, angka itu bukan hal yang mustahil untuk dicapai," tegasnya. (rou/wsh)





Hide Ads