Tender SLI, Temasek Sandung XL?
- detikInet
Jakarta -
Kepala Bagian Umum dan Humas Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi Gatot S. Dewa Broto mengatakan sejauh ini peminat tender Sambungan Langsung Internasional (SLI) baru dua perusahaan. Mereka adalah Excelcomindo Pratama (XL) dan Natrindo Telepon Seluler (NTS). Meski demikian Gatot optimis peminat akan bertambah menjelang ditutupnya pendaftaran peserta pada Jumat, 11 Juli 2007. "Mungkin seperti tender 3G, awal-awalnya sedikit tapi menjelang penutupan diperkirakan akan banyak," ujarnya kepada detikINET di Kantor Ditjen Postel, Rabu (4/7/2007). Gatot pun mengatakan sudah ada perusahaan yang menyatakan tidak akan ikut karena tidak memenuhi syarat. Salah satu syarat yang diminta oleh pemerintah adalah perusahaan peserta tender tidak boleh terafiliasi dengan pemegang lisensi SLI lewat jalur telepon tetap yang sudah ada. Gatot mencontohkan, Telkomsel adalah salah satu yang sejak jauh hari menyatakan tidak akan ikut. Ini karena Telkomsel terafiliasi dengan Telkom selaku pemegang lisensi SLI.Temasek Sandung XL?Desas-desus yang beredar di kalangan terbatas, XL bisa terganjal oleh aturan non-afiliasi tersebut. Pasalnya XL disebut-sebut memiliki afiliasi dengan Indosat. Dari mana afiliasinya? Sebagian besar saham XL dimiliki oleh Telekom Malaysia (TM), sedangkan sebagian saham TM konon dimiliki juga oleh salah satu anak perusahaan Temasek. Padahal Temasek juga memiliki STT, yaitu perusahaan yang memiliki saham di Indosat. Apakah dengan demikian XL terafiliasi dengan Indosat? Menurut Gatot hal itu akan ditentukan dalam proses tender, tepatnya saat Anweiizing (rapat penjelasan antara panitia dengan peserta lelang-red). Presiden Direktur XL, Hasnul Suhaimi, setuju dengan pernyataan Gatot. "Dapat atau tidaknya kita lisensi SLI akan ditentukan kalau sudah melalui proses tender. Yang jelas, data kepemilikan itu masih seperti yang saya sampaikan kemarin," ujarnya. Hasnul di kesempatan yang berbeda pernah menyatakan bahwa justru Telekom Malaysia yang memiliki saham di Temasek. Nilai saham itu pun, ujarnya ketika itu, hanya 0,5 persen.
(wsh/wsh)