Ekspansi Mobile-8 Tanpa Infrastruktur Menara
- detikInet
Medan -
PT Mobile-8 Telecom Tbk ternyata telah melego habis seluruh menara telekomunikasi yang dimilikinya kepada pihak ketiga. Artinya, operator seluler berbasis CDMA itu menggelar layanan tanpa punya infrastruktur menara sama sekali.Layanan tanpa infrastruktur menara milik sendiri itu mulai digelar awal tahun ini, termasuk di daerah ekspansi barunya seperti Medan, Makassar, dan Denpasar. Selama ini, operator tersebut hanya berkutat di area Pulau Jawa saja.Padahal, dalam siaran pers yang dikutip Senin (2/7/2007) itu menyebutkan, operator dengan merek dagang Fren ini menargetkan tambahan satu juta pelanggan dari hasil ekspansinya ke luar Pulau Jawa. Secara total, Mobile-8 yang telah memiliki basis pelanggan 1,8 juta pada akhir tahun lalu, menargetkan pelanggannya menjadi 4 juta di akhir 2007.Chief Corporate Affairs Mobile-8, Merza Fachys, mengungkap, perusahaan tempat ia bekerja kini telah menjual 400 menara BTS yang dimilikinya kepada pihak penyedia jasa sewa infrastruktur menara bersama. "Pengambilan keputusan tersebut sudah dibuat sejak tahun lalu sebelum saya masuk ke perusahaan ini (Mobile-8)," sergahnya, baru-baru ini."Kami menjadi satu-satunya operator yang telah 100% outsource menara," ujar Merza. Dari hasil penjualan menara tersebut, Mobile-8 hanya balik modal 60% dari total investasi awal yang telah dikeluarkan.Saat ini, Mobile-8 menggelar layanan dengan berbasis 700 menara pemancar yang sudah merupakan hasil sewa. Mobile-8 juga akan menyewa 700 menara lagi hingga menjadi 1400 site pada akhir tahun nanti dengan menggandeng 20 perusahaan penyedia jasa sewa menara.Untuk belanja modal (capital expenditure/capex) di 2007, Mobile-8 menganggarkan US$ 125 juta untuk alokasi base transceiever station (BTS) termasuk untuk biaya sewa menaranya. Mobile-8 memilih Samsung sebagai vendor penyedia seluruh infrastruktur BTS."Secara investasi, capex kami untuk infrastruktur menara tidak ada alias nol, namun opex (operational expenditure) kami jadi meningkat," ujarnya. "Tapi, investasi yang besar itu hanya short term saja saat kami jadi penyewa pertama. In the long term, biaya untuk menara akan berkurang seiring masuknya penyewa baru," ia menambahkan.Merza menjelaskan, metode penggunaan menara bersama akan menghabiskan biaya 100% sewa di saat hanya digunakan oleh satu operator. Namun, bila perusahaan lain ikut bergabung menggunakan menara tersebut, biaya sewa perusahaan pertama akan menyusut menjadi 40%, sedangkan pendatang barunya menanggung 60%.Dalam aturan penggunaan menara bersama, satu tiang pemancar hanya boleh ditempati oleh tiga perusahaan dengan layanan sejenis agar tidak menimbulkan interferensi satu sama lain. Bila ada tiga perusahaan yang menyewa satu menara, maka biaya yang ditanggung pihak pertama dan kedua masing-masing hanya sebesar 30%. Sementara 40% sisanya, kata Merza, ditanggung penyewa yang datang paling terakhir.Khusus di Medan, Mobile-8 dalam menggelar layanan menyewa 100 menara untuk menampung BTS-nya. Dari infrastuktur tersebut, kata Merza, kapasitas yang mampu ditampung mencakupi hingga 600 ribu pelanggan. "Kami menargetkan pertumbuhan 30 ribu pelanggan tiap bulannya di Medan," tukasnya. Selain Medan, Mobile juga menyewa 100 menara untuk Makassar dan Denpasar.Lebih lanjut ia mengatakan, peluncuran layanan Fren di Medan, Makassar, dan Denpasar merupakan bagian dari rencana bisnis Mobile-8 untuk memperluas layanan hingga ke seluruh Indonesia."Kami menargetkan cakupan jaringan Mobile-8 sudah bisa menjangkau lebih dari 80% wilayah Indonesia pada 2010, yang mencakup seluruh kecamatan," tandasnya.
(rou/rou)