Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Sektor Telekomunikasi
Pertumbuhan Fantastis, Peluang Terbuka Lebar
Sektor Telekomunikasi

Pertumbuhan Fantastis, Peluang Terbuka Lebar


- detikInet

Jakarta - Siapa yang tak butuh berkomunikasi? Bisa dipastikan hampir tak ada yang menjawab tidak. Melihat angka pertumbuhan pelanggan yang fantastis, peluang untuk masuk di sektor tersebut dan mencicipi manisnya bisnis kian terbuka lebar.Lihat saja, dari data yang dipaparkan Sekjen Menteri Komunikasi dan Informatika Ashwin Sasongko, disebutkan jumlah rata-rata pertumbuhan pelanggan (CAGR) di semua sektor bisnis telekomunikasi di Indonesia terus meningkat di atas 20% tiap tahunnya. Hal itu meliputi layanan komunikasi berbasis seluler, telepon tetap, internet, dan akses pita lebar.Disebutkan, pelanggan seluler dengan CAGR 26,7% akan bertambah menjadi 122,1 juta pada 2010. Hingga akhir 2007 saja pelanggan diproyeksi mencapai 78,5 juta dari 66,5 juta tahun sebelumnya. Sementara pelanggan telepon tetap baik kabel maupun nirkabel akan bertambah menjadi 31,2 juta pada 2010 dengan CAGR 20,1%. Hingga akhir 2007 pelanggan diproyeksi mencapai 16,2 juta dari 14 juta tahun sebelumnya.Tak kalah hebatnya, jumlah pengguna internet yang pada akhir 2006 mencapai 25 juta, kini pada akhir 2007 diproyeksi akan mencapai 31,5 juta. Bahkan dengan CAGR 30,8%, jumlah pengguna internet diproyeksi bakal menjadi 80,2 juta pada 2010. Sementara, meski tingkat CAGR-nya terbilang tinggi dengan angka pertumbuhan 71%, pengguna akses pita lebar (broadband) yang pada akhir 2006 hanya 500 ribu dan diperkirakan menjadi 900 ribu pada akhir 2007, baru mencapai 2,5 juta pada akhir 2007.KonvergensiMenurut Direktur Utama PT Telkomsel Kiskenda Suriahardja, sektor telekomunikasi kini sudah beralih menjadi layanan yang bersifat konvergensi. Artinya, operator kini bukan lagi bertindak sebagai penyedia jasa telekomunikasi dasar semata, namun sudah mencakup seluruh aspek bisnis keseluruhan. "Operator kini bisa menjadi penyedia layanan, jaringan, konten, begitu pula sebaliknya," kata dia.Ia menegaskan, bisnis telekomunikasi tak bisa berdiri sendiri alias saling berkaitan. Operator butuh mitra bisnis mulai dari penjual voucher hingga infrastruktur. Operator juga tak boleh pilih-pilih wilayah dalam menggelar layanan. "Itulah peluang bisnisnya. Dengan tumbuhnya seluruh sektor tersebut tentunya akan menunjang bisnis lain. Buat apa ada jaringan tapi nggak ada yang jual kartu perdana dan voucher, tapi buat apa jual jual kartu perdana dan voucher kalau tidak ada cakupan jaringan," ujar Kiskenda.Dari sisi layanan, Kiskenda menilai akses pita lebar berbasis teknologi WiMAX bukan lagi sebagai ancaman untuk penyedia akses berbasis seluler generasi ketiga (3G). Sebaliknya, 3G justru menjadi penunjang untuk bisnis WiMAX nantinya."Teknologi hanyalah tools untuk bisnis. Justru 3G menjadi trigger untuk bisnis WiMAX, bahkan bisa jadi dua-duanya saling mendukung. Karena saat ini tren mobile seluler akan bergeser ke broadband, sementara broadband access akan beralih ke mobility," kata dia di hadapan puluhan panelis.Sumber DayaPerlu sumber daya yang tepat untuk merebut pangsa pasar bisnis di sektor telekomunikasi. Selain infrastruktur andal sebagai penunjang pelayanan, ada faktor lain yang juga penting namun terbilang langka di Indonesia."Sangat mudah untuk mengadopsi teknologi, tapi menurut saya jauh lebih sulit untuk mendapatkan sumber daya manusia (SDM)-nya," kata Director Networks Business PT Motorola Indonesia, Patrick Adhiatmadja. "Sulit sekali mendapatkan RF Engineers," sambungnya.Patrick heran, dengan melimpahnya peluang bisnis di sektor telekomunikasi, SDM yang kompeten hampir terbilang jarang. "Anehnya di Indonesia tingkat pengangguran tinggi, tapi mengapa industri telekomunikasi masih kekurangan SDM? Padahal universitas yang mencetak sarjana jurusan bidang itu juga tak sedikit," tukasnya tak percaya. (rou/rou)





Hide Ads