Hutchison Belum Mau Buka-Bukaan
- detikInet
Jakarta -
Hutchison CP Telecommunications Indonesia belum mau terbuka sepenuhnya soal infrastruktur. Meski demikian operator dengan merek dagang 3 itu tetap pede. Dalam pertemuan dengan wartawan di Cafe Wien, Plaza Semanggi, Senin (2/4/2007), Presiden Direktur Hutchison CP Telecommunications Indonesia (HCPT) Rajiv Shawney tetap enggan merinci infrastruktur untuk layanan 3 (baca:tri). Padahal informasi soal jaringan tersebut bisa membantu konsumen untuk menilai apakah layanan 3 layak digunakan atau tidak. Namun Rajiv mengatakan HCPT berkomitmen untuk membangun jaringan karena telah menghabiskan investasi US$ 450 juta di Indonesia. "Kami membangun jaringan di area yang pelanggan inginkan, seperti 3G kami bangun di Jakarta dan Banten. Nanti akan dikembangkan sesuai kebutuhan pelanggan, sesuai hasil riset pasar kami," ia menambahkan. Rajiv mengatakan tidak ada rahasia terkait infrastruktur 3 yang menggunakan perangkat Nokia-Siemens itu. "Tidak ada rahasia. Semua sudah kami ceritakan ke regulator soal pembangunan jaringan," tuturnya. Meski menceritakan ke regulator, Rajiv tetap tak mau mengungkap rincian jaringan 3 di Indonesia. "Kami tidak akan membicarakan jaringan, tapi mencoba untuk berbicara dalam bahasa konsumen. Kami hanya menceritakan apa yang diinginkan pelanggan," Rajiv menambahkan. Heru Sutadi, anggota Badan Regulasi Telkomunikasi Indonesia, mengatakan HCPT telah mengadakan layanan 3G di Jakarta dan Banten. "Ada 78 BTS (Base Transceiver Station-red) yang telah dilaporkan, tapi mereka sudah membangun lebih dari itu. Angka tepatnya tanyakan saja sendiri," ujar Heru yang dihubungi secara terpisah. Tak Ada Problem dengan RegulasiDalam peluncuran 3, Rajiv sempat mengatakan lambatnya kehadiran 3 di Indonesia salah satunya disebabkan oleh masalah regulasi. Namun dalam pertemuan Senin (2/4/2007) Rajiv menarik ucapannya. "Kami tidak punya masalah dengan regulasi. Kami pun memandang positif rezim interkoneksi yang berlaku dan optimistik melihat regulasi yang berlaku di Indonesia," tuturnya. Saat masih bernama Cyber Access Communications (CAC), HCPT adalah salah satu perusahaan awal di Indonesia yang menerima lisensi frekuensi telekomunikasi seluler generasi ketiga (3G). Namun layanan HCPT sendiri baru lansir di 2007, kurang lebih 3 atau 4 tahun sejak lisensi didapatkan CAC. Heru Sutadi mengatakan HCPT layak melakukan pembangunan yang lebih agresif. "Mereka harus agresif melakukan pembangunan sebab sesungguhnya mereka sudah mendapatkan lisensi sejak 2003. Dengan sistem izin pita, operator yang agresif membangun BTS maka pembayaran kewajiban izin stasiun akan lebih murah," Heru berusaha menyemangati.
(wsh/wsh)