Bakrie Telecom Takar Untung-Rugi Menara Bersama
- detikInet
Jakarta -
Penggunaan infrastruktur menara bersama atau kolokasi menjadi alternatif utama selain membangun sendiri bagi Bakrie Telecom yang ingin segera melancarkan ekspansi layanan telepon tetap terbatasnya di tingkat nasional.Hal itu diakui Wakil Direktur Utama PT Bakrie Telecom Tbk, M. Buldansyah. Ia menilai maraknya operator penyedia jasa menara bersama merupakan hal yang positif bagi industri telekomunikasi di Indonesia karena dapat mempercepat waktu penggelaran serta mendukung efisiensi."Namun kami masih terus mencermati strategi kolokasi ini karena tarif sewa yang diterapkan oleh beberapa operator menara masih relatif mahal, sehingga perlu melakukan perimbangan yang tepat antara membangun sendiri dan menyewa infrastruktur agar tingkat biaya operasi dapat tetap optimal," jelas pria yang akrab disapa Dany ini, dalam keterangan tertulisnya yang diterima detikINET, Rabu (21/3/2007).Operator yang kerap disebut Btel ini menganggarkan belanja modal sebesar US$ 220 juta untuk mewujudkan target penambahan jumlah pelanggan menjadi 3,6 juta di penghujung tahun 2007 ini. Dari jumlah pelanggan itu, 3,1 juta ditargetkan dari daerah lisensi Btel sebelumnya, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Sedangkan 500 ribu sisanya akan dikais dari 17 kota tambahan baru di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.Sedangkan dari total anggaran belanja tahun ini, sekitar 60% atau US$ 132 juta akan dialokasikan untuk membangun infrastruktur, backbone transmisi jaringan serta untuk membangun sistem teknologi informasi. Kemudian 40% sisanya, atau sekitar US$ 88 juta bakal digunakan untuk peralatan jaringan seperti Mobile Switching Center (MSC), Base Station Controller (BSC), dan Base Transceiver Station (BTS). Btel sendiri berencana menggelar 800 BTS baru dan beberapa MSC di 2007 ini.Direktur Utama Bakrie Telecom Anindya N. Bakrie mengatakan, pihaknya berkeinginan untuk memulai layanan komersial di beberapa kota di Pulau Jawa seperti Surabaya, Semarang, Yogyakarta, dan Medan pada awal semester kedua tahun ini. "Kami sangat berharap agar proses realokasi frekuensi 800 MHz yang meliputi migrasi frekuensi lintas operator dapat berjalan mulus tanpa hambatan berarti, sehingga target untuk segera memulai layanan kami di wilayah nasional dapat terpenuhi," ucapnya.Dany menambahkan, pihaknya juga ingin memastikan bahwa proses migrasi pelanggan layanan Ratelindo ke layanan Wifone dan Esia dapat segera dituntaskan.Lonjakan Drastis PendapatanSementara itu, Anindya mengungkap, Bakrie Telecom berhasil membukukan kenaikan pendapatan kotor perusahaan sebesar 125% dari Rp 369,1 miliar di 2005 menjadi Rp 829,4 miliar pada 2006. Sedangkan pendapatan bersih perseroan, lanjutnya, juga meningkat tajam 149,4% dari Rp 243,76 miliar di 2005 menjadi Rp 607,9 miliar di tahun 2006. Operator Esia dan Wifone itu juga membukukan peningkatan signifikan pada pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) dari Rp 23,95 miliar menjadi Rp 291,52 miliar. Dengan pencapaian tersebut, ujar Anindya, berarti anak perusahaan PT Bakrie & Brothers Tbk itu berhasil meningkatkan kinerja EBITDA sebesar 1117,2%. Menurut Anindya, prestasi yang diraih oleh Bakrie Telecom pada 2006 lalu tidak terlepas dari kinerja perusahaan dalam meningkatkan jumlah pelanggannya. Jumlah pelanggan Bakrie Telecom tumbuh hingga 218% selama tahun 2006. Pada akhir 2005 jumlah pelanggan Bakrie Telecom hanya sekitar 487 ribu, jumlah itu meningkat jadi 1,547 juta pelanggan di penghujung 2006.
(rou/rou)